Senin, 23 Juli 2018

Dipenjara, Warga Australia Ini Minta Maaf pada Hun Sen

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sineas Australia, James Ricketson menyampaikan permintaan maafnya lewat sepucuk surat kepada Perdana Menteri Hun Sen. REUTERS/Samrang Pring

    Sineas Australia, James Ricketson menyampaikan permintaan maafnya lewat sepucuk surat kepada Perdana Menteri Hun Sen. REUTERS/Samrang Pring

    TEMPO.CO, Jakarta - Sineas asal Australia, James Ricketson, meminta maaf kepada Perdana Menteri, Hun Sen, atas tindakannya yang telah dianggap orang nomor di Kamboja itu, tidak sopan. Ricketson kini sedang menjalani sidang di mana dia dituduh melakukan tindakan mata-mata dan terancam menghadapi hukuman10 tahun penjara jika terbukti bersalah.

    Seperti dikutip dari Reuters pada Kamis,12 Juli 2018, Ricketson menyampaikan permintaan maafnya lewat sepucuk surat. Surat itu diterbitkan secara lengkap di surat kabar Khmer Times pada Rabu 11 Juli 2018.  

    Baca: Ini Janji Kampanye Hun Sen pada Pemilu Kamboja

    "Saya sekarang menyadari bahwa pernyataan yang saya buat di media dan media lain sangat mengganggu dan kurang informasi. Pernyataan-pernyataan saya berasal dari kenaifan orang asing dan ketidaktahuan tentang kompleksitas dan kesulitan mengatur Kamboja," tulis Ricketson.

    Dalam surat permohonan maafnya, Ricketson pun mengatakan bahwa dia sekarang menyadari betapa stabilnya Kamboja di bawah pemerintahan Hun Sen.

    Baca: Hun Sen Minta Penyebar Rumor soal Pemilu Ditangkap

    "Saya mohon maaf tanpa pamrih dan tanpa syarat untuk kesusahan apapun yang mungkin saya timbulkan sebagai akibat ketidaktahuan saya tentang masalah Kamboja. Jika ada yang dapat saya lakukan untuk memperbaiki kesalahan saya, tolong beri tahu karena saya hanya menginginkan yang terbaik untuk Anda dan Kamboja."

    Pengacara Ricketson, Peung Yok Hiep, mengkonfirmasi keaslian surat itu kepada Reuters dan mengatakan akan membawa surat itu ke pengadilan menjelang sidang selanjutnya. SBS mewartakan surat dari Ricketson yang diterbitkan Khmer Times itu disampaikan melalui putranya, Jesse.

    Ricketson saat ini berada di sebuah penjara di Kamboja. Kesehatannya selama di penjara dikabarkan memburuk. Dia mengeluhkan mengalami penyakit kulit seperti kudis, infeksi pernapasan yang terus menerus, kehilangan energi dan pusing. Pada awal Mei 2018, ia telah dipindahkan dari sel penjara ke ruang perawatan penjara. Rencananya, kasusnya akan kembali disidangkan pada Senin, 16 Juli 2018.

    Kasus hukum yang dihadapi Ricketson bermula saat dia menerbangkan pesawat tanpa awak atau drone ketika berlangsungnya unjuk rasa partai oposisi,  Partai Penyelamat Nasional Kamboja atau CNRP pada Juni 2017. Partai itu, sekarang sudah dibubarkan.

    Atas tindakannya itu, Ricketson diduga telah melakukan tindakan mata-mata dalam aksi unjuk rasa itu. Ia membantah tuduhan itu dan menyebut jaksa telah gagal menghadirkan bukti untuk mendukung dakwaannya. 

    Penangkapan Ricketson terjadi di tengah tindakan tegas pemerintahan Hun Sen terhadap kebebasan berekspresi. Sebelumnya UCA News mewartakan, dua wartawan lokal Radio Free Asia, Yeang Sothearin, 35, dan Oun Chhin, 49, juga dipenjarakan dengan tuduhan makar.

    UCA News dalam pemberitaannya menuliskan, kasus Ricketson telah menjadi berita utama, terutama di negara asalnya Australia. Ada lebih dari 76.000 masyarakat Australia menandatangani petisi yang menyerukan pembebasannya. Orang-orang terkemuka di industri perfilman Australia juga mendukung perjuangannya. Termasuk di antaranya ialah aktor Sam Neill, Greta Scacchi, Bryan Brown, dan Rachel Ward.

    Wartawan Australia, Peter Greste, yang menghabiskan 400 hari di penjara Mesir atas tuduhan dia mendukung terorisme melalui liputannya untuk Al Jazeera, juga memberikan dukungan. Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop, mengatakan pihaknya telah mengirim surat kepada Hun Sen atas nama Ricketson.

    REUTERS | SBS | UCA NEWS | ERVIRDI RAHMAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Zainul Majdi Memihak Prabowo di Pilpres 2014, Kini Memilih Jokowi

    Tuan Guru Bajang Zainul Majdi memberi dukungan pada Jokowi untuk Pemilihan Presiden 2019. Padahal ia dan dua tokoh ini sebelumnya mendukung Prabowo.