Senin, 17 Desember 2018

Perawat di Jepang Membunuh Puluhan Pasien Lansia, Ini Alasannya

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang tahanan berusia 92 tahun mendapatkan perawatan dari petugas kesehatan saat berada di penjara Tokushima, Jepang, 2 Maret 2018. REUTERS/Toru Hanai

    Seorang tahanan berusia 92 tahun mendapatkan perawatan dari petugas kesehatan saat berada di penjara Tokushima, Jepang, 2 Maret 2018. REUTERS/Toru Hanai

    TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat Jepang digegerkan dengan pengakuan seorang perawat yang membunuh puluhan pasien Lansia karena 'gangguan' beban emosi menghadapi kerabat pasien. Ayumi Kuboki, 31 tahun, diduga telah ikut 'andil' dalam kematian 48 pasien pada 2016 di Rumah Sakit Oguchi, Yokohama, Jepang.

    Dikutip dari situs rt.com pada Kamis, 12 Juli 2018, Kuboki telah mengaku membunuh seluruh pasien manula yang sudah diambang kematian. Perawat itu mengatakan tak sanggup mengatasi beban emosi untuk menjelaskan pada keluarga pasien mengapa pasien meninggal dunia dalam pemantauannya. Kuboki diduga telah membunuh seluruh korban dengan cara mengatur masuknya cairan infus intravena dengan desinfektan yang mengandung benzalkonium klorida.

    "Saya benci melihat kemunduran kondisi kesehatan mereka dengan cepat. Saya tidak mau mereka meninggal dunia saat jam kerja saya karena itu menyulitkan saya untuk menjelaskan kepada keluarga pasien. Ini akan menjadi sebuah gangguan jika tanggung jawab itu jatuh pada saya," kata Kuboki kepada penyidik.

    Baca: Bergaya Pramugari, Trik Perawat Cina Hadapi Pasien  

    Ilustrasi perawat. REUTERS

    Baca: Gaji Tinggi, Indonesia Berangkatkan 300 Perawat ke Jepang

    Kuboki sudah ditahan pada Sabtu, 7 Juli 2018, atas dugaan membunuh Sozo Nishikawa, 88 tahun, yang meninggal dunia pada September 2016. Saat disidik, Kuboki dengan cepat mengakui perbuatannya. Dia pun mengaku membunuh setidaknya 20 pasien dari total 48 pasien yang dirawatnya sepanjang Juli dan September 2016.

    Kuboki mendapatkan izin bekerja sebagai perawat pada 2008. Dia mulai bekerja pada Rumah Sakit Oguchi pada Mie 2015 setelah bekerja di rumah sakit lain.

    Otoritas berwenang Jepang tidak yakin jika Kuboki hanya menyasar pasien-pasien dengan penyakit tahap akhir. Sumber yang sedang menyelidiki kasus ini mengatakan kepada Asahi Shimbun ada sejumlah pasien meninggal dunia dalam tempo tiga bulan padahal sakit yang mereka derita tidak serius.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Serunya Adu Cuit Pendukung Jokowi Versus Prabowo di Jagat Twitter

    Di Twitter, perang cuit antara pendukung Jokowi - Ma'ruf Amin dengan Prabowo - Sandiaga tak kalah seru dengan "perat darat".