Selasa, 13 November 2018

Kepolisian Singapura Sebut Hong Kong Pernah Tolak Tangkap Jho Low

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jho Low. scmp.com

    Jho Low. scmp.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Singapura menyebut pernah mengirim permintaan yang diajukan kepada pihak berwenang Hong Kong pada April 2016 untuk penangkapan Jho Low. Namun permintaan pihak Singapura untuk menangkap pengusaha Malaysia yang terkait dengan skandal 1Malaysia Development Berhad (1MDB), ditolak oleh kepolisian Hong Kong.

    Jho Low, yang nama aslinya adalah Low Taek Jho, adalah buronan pihak berwenang Malaysia dalam penyelidikan penggelapan dana negara 1MDB. Low diyakini telah melarikan diri ke Macau namun tidak diketahui tujuannya, setelah sebelumnya dilaporkan berada di Hong Kong.

    Baca: Polisi Malaysia Datang ke Makau, Jho Low Kabur ke Hong Kong

    Kepolisian Singapura mengeluarkan pernyataan pada Rabu 11 Juli, seperti dilaporkan Channel News Asia, 12 Juli 2018, untuk membantah laporan yang mengklaim Singapura tidak mengajukan permintaan ke Hong Kong untuk penangkapan dan ekstradisi.

    "Kami mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Low pada April 2016, menyusul penyelidikan dan tuduhan terhadapnya atas pelanggaran pencucian uang dan karena tidak jujur menerima properti yang dicuri," kata kepolisian Singapura.

    Bertindak atas informasi yang diterima, pihak berwenang Singapura mengirim permintaan ke Hong Kong pada bulan yang sama untuk menangkap Low, namun permintaan Singapura ditolak.

    Pihak berwenang Singapura juga meminta INTERPOL untuk menerbitkan peringatan untuk Jho Low. Surat peringatan mengacu pada permintaan oleh suatu negara untuk mencari dan sementara menangkap seseorang berdasarkan surat perintah penangkapan nasional yang sah.

    "Sampai saat ini, baik surat perintah penangkapan dan peringatan INTERPOL mulai berlaku. Jho Low tetap merupakan tokoh kunci yang dicari Singapura dalam penyelidikan yang terkait dengan 1MDB yang sedang dilakukan," kata polisi.

    Pengumuman DPO MACC atau Suruhan Jaya Pencegahan Rasuah Malaysia (SPRM) untuk pengusaha Jho Low dan mantan direktur SRC International, Nik Faisal Ariff Kamil Nik Othman Arif Kamil, 7 Jumi 2018. [SRPM via Facebook]

    Singapura adalah salah satu dari enam negara, termasuk Swiss dan AS, yang melakukan penyelidikan terhadap dugaan penyelewengan dana dari perusahaan yang didirikan oleh mantan perdana menteri Malaysia Najib Razak. Najib sendiri telah dituntut dengan pelanggaran kriminal kepercayaan dan penyalahgunaan kekuasaan.

    Malaysia juga telah mengirim "Red Notice" untuk Rendah meminta bantuan dari negara lain termasuk Uni Emirat Arab, Indonesia, India, Myanmar, Cina dan Hong Kong.

    Peta skema Hang Jho Low. Malaysiakimi.com

    Paspor Low dicabut oleh Departemen Imigrasi Malaysia dari 15 Juni di bawah perintah Komisi Anti-Korupsi Malaysia. Namun, ia diyakini menggunakan paspor dari negara lain.

    Sehari sebelumnya, seperti dilansir Reuters, pihak berwenang Malaysia telah meminta otoritas Makau untuk menahan Jho Low. Mereka menduga dia sebelumnya melarikan diri ke Makau untuk menghindari penangkapan di Hong Kong.

    Baca: Kepolisian Malaysia Minta Otoritas Makau Tangkap Jho Low

    South China Morning Post melaporkan pada Rabu 11 Juli, Jho Low diduga telah melarikan diri ke daratan Cina dari Makau melalui mobil atau jet pribadi.

    Ditanya tentang keberadaan Low, juru bicara kementerian luar negeri Cina Hua Chunying mengatakan bahwa dia tidak mengetahui keberadaan Jho Low. Kepolisian Makau telah mengkonfirmasi dalam sebuah pernyataan kepada Reuters bahwa pihaknya telah mengirim tanggapan ke Malaysia, tetapi mengatakan tidak akan "mengungkapkan informasi pribadi masuk dan keluar".


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?