Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

Ini Cerita Tentara Amerika yang Ikut Misi Penyelamatan Thailand

image-gnews
Sersan Senior Angkatan Udara AS, Derek Anderson, berbicara tentang operasi berisiko penyelamatan anak-anak yang terperangkap dan pelatih sepak bola mereka ke Associated Press selama wawancara eksklusif di provinsi Chiang Rai, Thailand utara, Rabu, 11 Juli 2018.[AP Photo / Vincent Thian]
Sersan Senior Angkatan Udara AS, Derek Anderson, berbicara tentang operasi berisiko penyelamatan anak-anak yang terperangkap dan pelatih sepak bola mereka ke Associated Press selama wawancara eksklusif di provinsi Chiang Rai, Thailand utara, Rabu, 11 Juli 2018.[AP Photo / Vincent Thian]
Iklan

TEMPO.CO, Jakarta - Anak-anak lelaki Thailand diselamatkan dari gua banjir setelah menyelam dengan jarak pandang nol yang berlangsung hingga setengah jam. Di dalam gua, mereka dipasangkan harness dan berjajar di gua-gua berbatu, cerita salah seorang penyelamat asal Amerika Serikat yang terlibat dalam operasi, yang menyebutnya sebagai "penyelamatan sekali seumur hidup."

Derek Anderson yang berusia 32 tahun, adalah seorang spesialis penyelamat dari Angkatan Udara AS yang berbasis di Okinawa, Jepang. Anderseon mengatakan 12 anak laki-laki dan pelatih mereka, yang terperangkap selama lebih dari dua minggu sebelum diselamatkan, adalah anak-anak yang tangguh.

Baca: Kehabisan Oksigen, Petugas Penyelamat Siswa di Gua Thailand Tewas 

Amerika Serikat ikut misi penyelamatan bersama tim dari Thailand, Inggris, Australia, dan negara-negara lain setelah tiba di gua pada 28 Juni saat hujan turun di wilayah di Thailand utara.

"Gua itu kering ketika kami tiba, dan dalam waktu satu setengah jam sudah penuh dengan 30 sentimeter hingga setengah meter dan kami terpaksa keluar," kata Anderson, seperti dilaporkan Associated Press, 12 Juli 2018.

"Itu baru di awal gua dan pada saat itu kami menyadari masalah ini akan menjadi jauh lebih rumit dari yang kami duga," lanjut Anderson.

Keputusan Thailand untuk menyelamatkan bocah-bocah itu terlepas dari kondisi mereka yang lemah dan kurangnya pengalaman menyelam, dilakukan ketika peluang saat cuaca yang relatif cerah. Operasi besar-besaran untuk memompa air keluar dilakukan dan menyiapkan oksigen di titik-titik krusial gua, untuk memungkinkan penyelamatan.

"Tingkat oksigen rendah, resiko penyakit dan resiko hujan lebat yang bisa membanjiri kompleks gua selama berbulan-bulan mengancam nyawa anak-anak di gua itu dan menyebabkan kami tidak memiliki pilihan yang baik," kata Anderson.

Tim penyelamat berjalan menuju pintu masuk ke kompleks gua ketika lima korban masih terperangkap, di Mae Sai, Provinsi Chiang Rai, Thailand utara Selasa, 10 Juli 2018.[AP Photo / Sakchai Lalit]

Akhirnya penyelam melakukan simulasi teknik penyelamatan mereka di kolam renang dengan anak-anak setempat tentang tinggi dan berat badan yang sama dengan anggota tim sepak bola "Wild Boars" yang terperangkap di dalam gua.

 

Operasi rumit untuk membawa anak-anak itu keluar dari gua dimulai pada Minggu 8 Juli, dan berhasil membawa empat anak kelaur. Kemudiah empat lagi dibawa keluar pada Senin 9 Juli, dan operasi berakhir Selasa 10 Juli, dengan menyelamatkan empat anak laki-laki terakhir dan pelatih mereka yang berusia 25 tahun.

Kedua belas anak-anak klub sepak bola dan pelatih mereka memasuki gua Tham Luang yang luas untuk pergi menjelajah setelah latihan sepak bola pada 23 Juni, tetapi hujan menyebabkan lorong gua banjir dan menutup jalan keluar mereka. Akhirnya mereka terpaksa masuk lebih dalam mencari tempat perlindungan.

Baca: Misi Penyelamatan Thailand Sukses, Ini Kata Trump, Mou dan FIFA

Upaya awal untuk menemukan anak laki-laki dua kali gagal karena banjir dingin yang bisa memicu hipotermia, dan mustahil menerobos masuk ke lorong sempit. Bahkan ketika kondisi membaik, dan penyelam mulai memasang tali penyelamat melalui gua, langkah ini masih dianggap berbahaya.

"Untuk menyelam di gua ini, Anda harus memasang tali, dan tali itulah garis hidup Anda. Anda harus memastikan ketika Anda masuk Anda memiliki jalan keluar. Mereka membuat kemajuan, tetapi itu hanya sedikit kemajuan dan mereka menghabiskan waktu sekitar lima atau enam jam dengan jarak 40 atau 50 meter," kata Anderson.

Petugas penyelamat membawa korban yang terjebak dalam gua Tham Luang di provinsi Chiang Rai, Thailand, 11 Juli 2018. (Thai NavySEAL Facebook Page via AP)

Dalam beberapa fase mereka dipandu oleh dua penyelam. Di beberapa bagian sempit mereka terhubung hanya dengan satu penyelam. Di dalam gua-gua dengan kantong-kantong udara membuat mereka mengambang dengan dibantu empat penyelamat. Beberapa bagian yang dilalui benar-benar kering tetapi berbatu tajam atau curam.

"Kami harus menyiapkan sistem tali panjang dan tinggi untuk dapat menempatkan mereka di harness dengan aman dan membawa mereka melintasi area terbuka yang luas sehingga mereka tidak harus turun sepenuhnya," kata Anderson.

"Tabung oksigen ditempatkan di seluruh titik gua untuk mengisi pasokan udara anak-anak yang menipis dengan 80 persen oksigen, bukan udara biasa karena itu akan menambah tingkat kejenuhan oksigen dan itu akan sangat baik bagi mereka, untuk kondisi mental mereka," ujar Anderson.

"Dunia hanya perlu tahu bahwa apa yang dicapai adalah penyelamatan seumur hidup yang saya pikir belum pernah dilakukan sebelumnya. Kami sangat beruntung hasilnya seperti yang kami rencanakan sejak awal," tutur Andersen.

Petugas penyelamat membawa korban yang terjebak dalam gua Tham Luang di provinsi Chiang Rai, Thailand, 11 Juli 2018. Tim penyelamat membawa para remaja dengan diberikan obat penenang agar tidak panik ketika melewati lorong-lorong gua yang sempit dan gelap. THAI NAVY SEAL/via REUTERS

Setelah dibawa keluar dari gua, mereka dibawa dengan helikopter ke rumah sakit di kota Chiang Rai, sekitar 70 kilometer jauhnya, untuk tinggal di karantina, seperti dilansir Reutes.

Anak-anak harus tinggal di rumah sakit hingga 10 hari, kemudian perlu memulihkan diri di rumah selama 30 hari. Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-ocha, meminta agar anak-anak diberikan waktu untuk pulih.

Baca: Siswa Thailand Selamat, Pemimpin Dunia Bilang Ini

"Yang penting adalah ... memberi ruang pribadi. Cara terbaik adalah tidak mengganggu mereka dan membiarkan mereka pulih," kata Prayuth.

Bantuan resmi datang dari Inggris, Amerika Serikat, Jepang, Laos, Myanmar, Cina dan Australia atas permintaan resmi pemerintah Thailand. Ada juga relawan dari Denmark, Jerman, Belgia, Kanada, Ukraina dan Finlandia turut membantu.

Iklan



Rekomendasi Artikel

Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

 

Video Pilihan


Menanti Senat dan Raja, Thailand Selangkah Lagi Melegalkan Pernikahan Sesama Jenis

1 hari lalu

Komunitas LGBT Thailand berpartisipasi dalam Parade Hari Kebebasan Gay di Bangkok, Thailand, 29 November 2018. REUTERS/Soe Zeya Tun
Menanti Senat dan Raja, Thailand Selangkah Lagi Melegalkan Pernikahan Sesama Jenis

Parlemen Thailand dengan suara bulat menyetujui rancangan undang-undang yang melegalkan pernikahan sesama jenis


8 Rekomendasi Destinasi dan Akomodasi untuk Festival Songkran di Thailand

4 hari lalu

Suasana perayaan festival air Songkran di provinsi Ayutthaya, utara Bangkok, Thailand, 13 April 2018. AP Photo/Sakchai Lalit
8 Rekomendasi Destinasi dan Akomodasi untuk Festival Songkran di Thailand

Festival Songkran di Thailand tahun ini diperkirakan lebih meriah setelah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO


Festival Songkran di Iconsiam Memadukan Budaya Thailand dan Hiburan Kontemporer

4 hari lalu

Festival Songkran. (dok. Iconsiam)
Festival Songkran di Iconsiam Memadukan Budaya Thailand dan Hiburan Kontemporer

Iconsiam menggelar Festival Songkran selama 12 hari mulai 10 hingga 21 April 2024. Apa saja acara yang akan digelar?


Tuai Kritik, PM Thailand Hentikan Perjalanan ke Luar Negeri Selama Dua Bulan

7 hari lalu

Perdana Menteri Thailand Srettha Thavisin berbicara kepada media saat ia tiba untuk menyampaikan pernyataan kebijakan Dewan Menteri kepada parlemen di Bangkok, Thailand, 11 September 2023. REUTERS/Athit Perawongmetha
Tuai Kritik, PM Thailand Hentikan Perjalanan ke Luar Negeri Selama Dua Bulan

PM Srettha Thavisin telah menghabiskan sekitar sepertiga dari enam bulan masa jabatannya di luar negeri untuk mempromosikan investasi di Thailand.


Hasil Studi Ini Sebut Daging Ular Piton Paling Lestari Dibandingkan Ternak Lain

9 hari lalu

Pekerja di peternakan Ular piton yang membudidayakan ular untuk diambil dagingnya di Asia Tenggara. Newscientist/Dan Natusch
Hasil Studi Ini Sebut Daging Ular Piton Paling Lestari Dibandingkan Ternak Lain

Studi mengukur pertumbuhan hampir 5000 ular piton jenis Malayopython reticulatus (sanca kembang) dan Python bivittatus (sanca Burma) selama setahun.


Dilaporkan Berefek Buruk, Penggunaan Ganja Rekreasi di Thailand akan Kembali Dilarang

11 hari lalu

Seorang wanita bekerja di dalam toko ganja, di Khaosan Road, salah satu tempat wisata favorit di Bangkok, Thailand, 29 Maret 2023. REUTERS/Chalinee Thirasupa
Dilaporkan Berefek Buruk, Penggunaan Ganja Rekreasi di Thailand akan Kembali Dilarang

Rancangan undang-undang pemerintah Thailand yang melarang penggunaan ganja untuk rekreasi akan mendapat persetujuan kabinet akhir bulan ini.


Ada Celah Aturan, Pakar Hukum Jelaskan Pelaku Jastip dari Luar Negeri Tak Jera Meski Pernah Ditindak

13 hari lalu

Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean (KPUBC TMP) C Soekarno-Hatta, Tangerang, memusnahkan  2.564 boks olahan pangan milk bun  hasil sitaan petugas. ANTARA/Azmi Samsul Maarif
Ada Celah Aturan, Pakar Hukum Jelaskan Pelaku Jastip dari Luar Negeri Tak Jera Meski Pernah Ditindak

Pakar hukum pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, mengatakan tak munculnya efek jera para pelaku jastip karena aturan tidak secara tegas.


Mengintip Restoran Louis Vuitton di Bangkok, Pertama di Asia Tenggara

14 hari lalu

LV The Place Bangkok (louisvuitton.com)
Mengintip Restoran Louis Vuitton di Bangkok, Pertama di Asia Tenggara

Restoran Louis Vuitton menerapkan aturan ketat bagi tamu, tak boleh pakai sandal jepit.


Diduga Jastip dan Dijual Kembali, BPOM Musnahkan 1 Juta Ton Milk Bun Asal Thailand

14 hari lalu

Bea Cukai Soekarno-Hatta bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) musnahkan 2.564 buah (1 ton) olahan pangan viral, roti milk bun asal Thailand. BPOM
Diduga Jastip dan Dijual Kembali, BPOM Musnahkan 1 Juta Ton Milk Bun Asal Thailand

BPOM memusnahkan satu ton roti milk bun asal Thailand, pada Jumat, 8 Maret 2024. Roti itu hasil sitaan Bea Cukai Soekarno-Hatta dari 33 pelaku jastip.


Polri Bilang Fredy Pratama Rekrut Anggota untuk Bentuk Jaringan Baru, Ini Alasannya

14 hari lalu

Petugas memasangkan borgol kepada tersangka saat rilis Pengungkapan Satgas Penanggulangan Penyalahgunaan dan Peredaran Narkoba jaringan Fredy Pratama di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Selasa, 3 Oktober 2023. Dalam keteranganya, Polri berhasil menangkap sebanyak 39 tersangka dan mengamankan sejumlah barang bukti berupa 520 kg sabu, 280, 973 butir ekstasi, uang cash 22 miliar, barang perhiasan mewah senilai 1,82 miliar, kendaraan 20 unit, tanah dan bangunan. TEMPO/ Febri Angga Palguna
Polri Bilang Fredy Pratama Rekrut Anggota untuk Bentuk Jaringan Baru, Ini Alasannya

Polri menyebut kaki tangan Fredy Pratama merekrut anggota baru untuk bergabung dengan jaringan narkoba baru.