Selasa, 25 September 2018

Perempuan di Cina Ditolak Jadi Guru karena Kurang Tinggi

Reporter:
Editor:

Yon Yoseph

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi seorang guru. shutterstock.com

    Ilustrasi seorang guru. shutterstock.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Provinis Shaanxi di wilayah tengah Cina sedang mempertimbangkan untuk menghapuskan persyaratan menjadi guru setelah seorang perempuan lulusan ilmu kependidikan ditolak untuk menjadi guru hanya karena kurang tinggi. Li, calon guru yang kurang tinggi itu, memiliki tinggi badan 1.4 meter sedangkan standar tinggi untuk menjadi guru adalah 1.5 meter. 

    Li yang tidak mau dipublikasi nama lengkapnya, diberitahu kalau dia tidak lulus tes untuk menjadi guru pada sebuah sekolah menengah setelah menjalani tes kesehatan. Li lulus kuliah pada pertengahan Juni 2018 dna penolakan terhadapnya dilatar belakangi tinggi badannya yang tidak mencapai 1,5 meter.

    Dalam persyaratannya menyebut pelamar wanita harus setidaknya memiliki tinggi badan 1,5 meter dan laki-laki 1,55 meter agar menjadi guru yang berkualitas.

    Baca: Guru Dipecat karena Pilkada, Ini Tindakan Dinas Pendidikan Bekasi

    Li lantas memprotes hal itu karena semasa kuliah ia telah menandatangani perjanjian untuk mengajar di sekolah umum di mana saja di provinsi tersebut agar bisa mendapatkan beasiswa. Li merupakan mahasiswa jurusan bahasa Inggris di Shaanxi Normal University angkatan 2014. 

    Ilustrasi mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri. TEMPO/Suryo Wibowo

    Baca: Honeywell Kirim 10 Guru Indonesia ke Pusat Antariksa Amerika

    "Empat tahun saya di perguruan tinggi sia-sia dan saya bahkan dapat dituduh melanggar perjanjian beasiswa dengan universitas jika saya tidak bisa mendapatkan kualifikasi mengajar," kata Li, seperti dikutip The Star pada 6 Juli 2018.

    Kasus yang menimpa Li kini tersebar luas di media sosial Cina dan menjadi viral. Banyak netizen yang mengecam aturan tersebut. Setelah kasus ini ramai, departemen pendidikan Provinsi Shaanxi berencana menghapus aturan tersebut. Seorang pejabat bernama Yang dari departemen pendidikan Provinsi Shaanxi mengatakan akan menangani kasus ini dan berencana untuk membatalkan persyaratan untuk tahun depan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Haringga Sirla, Korban Ketujuh Ricuh Suporter Persib dan Pesija

    Haringga Sirla menjadi korban ketujuh dari perseteruan suporter Persib versus Persija sepanjang 2012 sampai 2018.