Ini Cerita Pengacara Korban Soal Penembak Capital Gazette

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polis mengungkap tersangkap penembakan di kantor media Capital Gazette bernama Jarrod Warren Ramos. Via The American Conservative

    Polis mengungkap tersangkap penembakan di kantor media Capital Gazette bernama Jarrod Warren Ramos. Via The American Conservative

    TEMPO.CO, Maryland – Bekas pengacara korban gangguan dari Jarrod Warren Ramos, Brennan McCarthy, mengaku merasa sangat takut terhadap Ramos, yang belakangan menjadi tersangka utama penembakan media Capital Gazette.

    Dalam penembakan yang terjadi pada Kamis, 28 Juni 2018 waktu setempat itu, Ramos menembak mati lima orang termasuk dua orang luka berat.

    Baca:
    Penembakan di Capital Gazette, Amerika, Polisi Bereaksi Cepat
    Penembakan di Capital Gazette, Amerika, 5 Tewas 3 Luka Serius

    McCarthy mengatakan Ramos merupakan orang yang paling menakutkan yang pernah ditemuinya selama 19 tahun berpraktek sebagai pengacara.

    “Dari ribuan orang yang pernah saya tangani, lelaki satu ini menonjol,” kata McCarthy kepada USA Today, Jumat, 29 Juni 2018. “Saya merasa sangat takut dia akan mencoba melakukan sesuatu terhadap saya dan keluarga.”

    McCarthy mengaku menjadi target Ramos setelah dia membela seorang perempuan pada 2011. Perempuan ini mengadu ke polisi karena merasa diikuti Ramos. Dia juga mendapat serangan verbal secara online.

    Perempuan korban Ramos ini bercerita kepada McCarthy bahwa Ramos mengganggunya secara online sejak 2009. “Itu kasus perudungan yang paling buruk yang pernah saya tangani selama karir saya sebagai pengacara,” kata McCarthy.

    Baca: 

    Pelaku Penembakan Capital Gazette Punya Dendam ke Surat Kabar

     

    Menurut McCarthy, Ramos mencoba menghubungi kliennya menggunakan berbagai cara dan media seperti menelpon, mengirim pesan SMS, Facebook, Whats App lalu mengatakan hal-hal buruk misalnya ‘kamu bunuh diri saja’.  

    Ramos akhirnya mengaku bersalah dan menjalani hukuan percobaan. Beberapa saat setelah itu, media Capital Gazette melansir sebuah kolom yang berjudul ‘Jarrod Ingin Jadi Temanmu’. Tulisan itu menggunakan kasus Jarrod sebagai contoh soal bahaya yang bisa muncul dengan mengumbar informasi pribadi secara online.

    Menurut McCarthy, Ramos merasa sangat marah atas artikel itu dan mengaku hanya menyatakan fakta saja soal perempuan yang diganggunya. Dia mengaku tidak merasa bersalah. Pada 2013, Ramos mengontak kembali perempuan yang pernah dia ganggu dan memintanya menyiapkan semua bahan yang akan digunakan untuk gugatan pencemaran nama baik kepada media Capital Gazette.

    McCarthy mengaku bertindak sebagai perantara agar kliennya tidak harus berhubungan langsung dengan Ramos. “Setelah itu, obsesinya berubah menjadi kepada saya. Dia mulai mengganggu keluarga dan saudara-saudara saya,” kata McCarthy. Ini termasuk gangguan terhadap 19 orang keponakannya.

    McCarthy mengaku khawatir Ramos akhirnya akan menyerang salah satu dari mereka. Dia menyebut Ramos sebagai seorang penyendiri klasik, yang kerap merasa marah dan obsesif terhadap orang lain. Ramos, menurut McCarthy, menyebut pihak yang berbeda pandangan sebagai musuh layaknya dalam peperangan.

    Media Capital Gazette menurunkan berita soal gugatan itu, yang ditolak hakim.

    Hakim Maureen M. Lamasney di George’s Circuit Court menyatakan artikel itu dibuat berdasarkan informasi catatan publik. Ramos dinilai tidak memiliki bukti bahwa artikel itu tidak akurat, sehingga hakim menolak gugatan Ramos.

    Ramos, yang mewakili dirinya sendiri, mengajukan gugatan banding atas putusan ini tapi kembali kalah. “Seorang pengacara nyaris bisa dipastikan akan menyarankan dia tidak melanjutkan kasus ini,” begitu pernyataan dari pengadilan banding Maryland Court of Special Appeals.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.