Diminta PBB, Koalisi Arab - Milisi Houthi Mau Berdamai?

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemberontak Houthi mengangkat senjata mereka saat merayakan kematian mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, di Sanaa, Yaman, 4 Desember 2017. REUTERS

    Pemberontak Houthi mengangkat senjata mereka saat merayakan kematian mantan Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, di Sanaa, Yaman, 4 Desember 2017. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Koalisi Arab pimpinan Arab Saudi yang memerangi milisi Houthi di Yaman mengatakan pada Jumat 29 Juni, akan menerima kesepakatan politik untuk mengakhiri konflik. Namun Arab Saudi bersikeras milis Houthi mengembalikan wilayah yang dikuasai sejak 2014.

    Pernyataan dari Koalisi Arab ini muncul setelah utusan PBB Martin Griffiths mengatakan akan membawa pihak yang bertikai ke meja perundingan dalam beberapa minggu ke depan untuk mengakhiri pertempuran di kota pelabuhan Hodeidah, Yaman.

    Baca: Imam Tunisia: Arab Saudi Pakai Dana Haji Perangi Suriah dan Yaman

    PBB berharap perkembangan diplomasi di Hodeidah dapat mengarah pada solusi yang lebih luas terhadap konflik tiga tahun yang telah menewaskan 10.000 jiwa lebih dan menyebabkan krisis kemanusiaan paling parah di dunia.

    "Saya ingin mengumpulkan semua pihak dalam beberapa minggu ke depan paling lambat. Saya berharap Dewan Keamanan PBB akan bertemu minggu depan dan kami akan membuat rencana sebelum membawa kedua pihak ke meja perundingan," ujar Martin Griffiths, seperti dilaporkan dari Reuters, 30 Juni 2018.

    Dalam beberapa hari terakhir, Griffiths bertemu dengan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi dan Mohammed Abdul-Salam, ketua negosiator kelompok Houthi, yang menguasai ibukota Yaman, Sanaa.

    “Kedua belah pihak telah menegaskan kepada saya kesediaan mereka untuk memulai kembali perundingan. Saya pikir sudah lama itu harus terjadi,” kata Griffiths.

    Baca: Koalisi Arab Klaim Tewaskan 8 Milisi Hizbullah di Hodeidah

    Houthi menawarkan untuk menyerahkan pengelolaan pelabuhan Hodeidah ke PBB sebagai bagian dari gencatan senjata secara keseluruhan dan Griffiths mengatakan ia mengharapkan pembicaraan lebih lanjut dengan Houthi dalam beberapa hari mendatang untuk menyetujui waktu dan rincian lainnya.

    Warga memeriksa bangunan yang rusak akibat serangan udara koalisi Arab Saudi di Amran, Yaman, 25 Juni 2018. REUTERS/Khaled Abdullah

    Pihak Hadi telah menerima proposal tetapi upaya untuk mencegah serangan habis-habisan terhadap fasilitas pelabuhan terus berlanjut, ungkap Griffiths.

    Dilaporkan Koalisi Arab bertanggung jawab atas lebih dari setengah kematian anak-anak dan luka-luka di Yaman yang dilanda perang tahun lalu, menurut laporan terbaru PBB, seperti dilansir dari Al Jazeera.

    Laporan tahunan Anak-Anak dan Konflik Bersenjata, yang menyoroti para korban anak-anak di seluruh dunia, menemukan bahwa total 1.316 anak tewas dan cacat di Yaman pada 2017.

    Arab Saudi, bersama dengan beberapa negara Arab lainnya, meluncurkan kampanye militer pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, yang bertujuan untuk menggulingkan pemberontak Houthi setelah mereka menyerbu Yaman pada 2014.

    Sebagian besar negara telah menarik pasukannya dari Koalisi Arab dukungan AS ini, dengan hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab melakukan serangan di Yaman.

    Seorang anak terlantar dari kota Hodeidah membawa saudaranya yang terkena monoplegia, di sekolah yang ditempati pengungsi, di Sanaa, Yaman 22 Juni 2018.[REUTERS/Mohamed al-Sayaghi]

    Laporan PBB disusun oleh staf Sekretaris Jenderal Antonio Guterres dan diserahkan ke Dewan Keamanan pada Senin 25 Juni.

    Laporan ini memverifikasi bahwa dari 552 anak-anak yang tewas (398 anak laki-laki dan 154 perempuan), mayoritas 370 korban anak-anak disebabkan serangan Koalisi Arab, yang juga menyebabkan 300 anak-anak terluka.

    Baca: Koalisi Arab Gempur Milisi Houthi, Krisis Kemanusiaan Meluas

    Sementara milisi Houthi bertanggung jawab atas tewasnya 83 anak-anak dan 241 anak-anak terluka, kelompok perlawanan pro pemerintah bertanggungjawab atas 41 korban anak-anak, dan pasukan internasional lainnya yang berjuang untuk pemerintah Yaman bertanggungjawab atas 19 korban, Al-Qaeda di Jazirah Arab (AQAP) bertanggungjawab atas tewasnya 10 korban, dan Angkatan Bersenjata Yaman bertanggungjawab atas empat anak-anak yang tewas.

    51 persen dari total 1.316 korban jiwa dalam perang Yaman disebabkan oleh serangan udara. Penyebab utama kedua adalah pertempuran darat, termasuk penembakan (136 tewas dan 334 luka-luka), diikuti oleh ledakan dari perang dan ranjau (27 tewas dan 119 luka-luka).


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Berjemur dan Dampak Positifnya Bagi Mata

    Mata merupakan jendela dunia. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa berbahaya. Oleh karena itu kita harus merawatnya dengan memperhatikan banyak hal.