Thailand Minta Bantuan AS Selamatkan 12 Anak Terjebak di Gua

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana saat tim SAR melakukan pencarian terhadap 12 siswa sepak bola dan seorang pelatih yang terperangkap di dalam Gua Tham Luang di provinsi utara Chiang Rai, Thailand, Rabu, 27 Juni 2018. AP Photo

    Suasana saat tim SAR melakukan pencarian terhadap 12 siswa sepak bola dan seorang pelatih yang terperangkap di dalam Gua Tham Luang di provinsi utara Chiang Rai, Thailand, Rabu, 27 Juni 2018. AP Photo

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim militer dari Amerika Serikat dan tim ahli selam dari Inggris ikut turun tangan dalam upaya penyelamatan 12 anak pemain sepak bola dan dan seorang pelatihnya yang sudah hilang selama lima hari di dalam gua Chaing Rai, Thailand

    Pemerintah Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik mengonfirmasi Amerika Serikat memberikan bantuan tim yang terdiri dari 30 orang untuk membantu pencarian itu. Nicole Schwegman, perwakilan militer Amerika Serikat, mengatakan pada Rabu 27 Juni 2018, pengiriman bantuan ini atas permintaan pemerintah Thailand.

    Baca: Tim SAR Thailand Cari 12 Anak Sekolah Hilang di Gua

    Sebanyak 12 anak yang tergabung dalam tim sepak bola remaja dan seorang pelatih mereka, terjebak di dalam goa Tham Luang Nang Non di Provinsi Chiang Rai pada Sabtu sore 23 Juni 2018. Kompleks gua yang kemudian meluas beberapa kilometer dengan lorong-lorong sempit dan tanah yang tidak rata, akan mengalami banjir parah ketika musim hujan.

    Dilansir dari Reuters, Mayor Jenderal Bancha Duriyapat, Komandan distrik militer 37 di Chiang Rai, mengatakan tim penyelamat berupaya mengebor dari atas kompleks gua untuk membuat pintu masuk alternatif bagi tim SAR.

    "Para ahli selam sudah diterjunkan langsung ke gua untuk melakukan pengamatan," ujar Bancha.

    Baca: Ibu di Thailand Menangis, Anak Dipermalukan Guru Soal SPP

    Sebelumnya pada Kamis pagi 28 Juni 2018, koordinator tim penyelamatan mengatakan hujan yang terjadi pada malam sebelumnya telah menaikkan kembali level air hingga 15 cm per jam sehingga mempersulit upaya pencarian karena membutuhkan penyelam yang dapat memutarbalikkan tubuh mereka sehingga membentuk huruf L. 

    Pihak berwenang optimis masih ada harapan, dimana tempat-tempat kering yang berada lebih tinggi di dalam gua itu barangkali digunakan oleh para korban yang terjebak untuk menunggu. 

    Hujan deras juga telah memaksa pihak berwenang mematikan pompa listrik dan air untuk menghindari bahaya. Padahal listrik baru saja dipasang beberapa hari sebelumnya untuk menyediakan lampu dan menunjang komunikasi yang lebih baik serta untuk memompa air yang membanjiri di dalam gua. 

    Kepala Kepolisian Thailand, Wirachai Songmetta, mengatakan ia akan bergabung dengan lebih dari 600 anggota tim penyelamat untuk mencari lubang yang memungkinkan menjadi pintu masuk ke gua itu. Beberapa lubang yang ditemukan sejauh ini tidak memungkinkan untuk dimasuki. 

    "Kami tidak akan menyerah. Itulah kuncinya di sini," katanya, dilansir dari Associated Press

    Sejauh ini, tim SAR di lokasi kejadian fokus pada tujuh kilometer rute yang dekat dengan pintu tempat masuk dari anak-anak dan pelatihnya yang hilang itu. 

    Sayang, rentetan upaya penyelamatan oleh pihak berwenang Thailand dan asing ini, nampaknya tetap memuaskan para keluarga korban. Sejumlah orang tua dari anak-anak yang terjebak di gua itu, mendirikan tenda di luar pintu gua dan bertahan ketika hujan turun. Ada anggota keluarga yang tak henti-henti menangis hingga matanya merah, ada pula yang memanjatkan doa di dekat gua dipimpin oleh seorang biksu Buddha.

    Associated Press | Reuters | Ervirdi Rahmat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.