Harley -- Davidson Mau Pindah Pabrik, Trump Ancam Pajak Tinggi

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anggota geng motor Samson Riders melintasi jalan menuju Kedutaan Besar AS yang baru di Yerusalem saat melakukan konvoi dari Tel Aviv, 13 Mei 2018. Mereka menunggangi Harley Davidson saat menggelar konvoi tersebut. REUTERS

    Sejumlah anggota geng motor Samson Riders melintasi jalan menuju Kedutaan Besar AS yang baru di Yerusalem saat melakukan konvoi dari Tel Aviv, 13 Mei 2018. Mereka menunggangi Harley Davidson saat menggelar konvoi tersebut. REUTERS

    TEMPO.CO, Washington – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam perusahaan motor besar Harley-Davidson Inc dengan tarif pajak yang tinggi jika perusahaan itu memindahkan pabriknya ke luar negeri.

    Trump mencuitkan ancamannya ini lewat akun Twitter @realdonaldtrump pada Selasa, 26 Juni 2018 waktu setempat.

    “Motor Harley-Davidson seharusnya tidak boleh pernah dibuat di negara lain! Pegawai dan pelanggan mereka sudah marah soal ini,” cuit Trump tanpa menunjukkan buktinya seperti dilansir Reuters, Selasa, 26 Juni 2018.

    Baca: 

    Perang Dagang, Trump Bakal Larang Ekspor Teknologi ke Cina

    Donald Trump Kaget Harley Davidson Menyerah dalam Perang Dagang

    “Jika mereka pindah, lihat saja, itu akan menjadi awal dari akhir – Mereka menyerah, mereka berhenti! Auranya akan hilang dan mereka akan dikenai pajak tinggi yang belum pernah diterapkan,” kata Trump.

    Media Reuters melansir Trump tidak menjelaskan pajak apa yang dimaksud dan mengapa perusahaan harus membayarnya. Apalagi, perusahaan Harley-Davidson tetap akan mempertahankan pabrik di AS untuk menyuplai pelanggan di sana. Pejabat Gedung Putih tidak menanggapi permintaan konfirmasi soal cuitan Trump itu.

    Baca: 

    Donald Trump Ingin Larang Mobil Mewah Jerman Masuk AS, Kenapa?

    Perang Dagang, Trump Ancam Naikkan Tarif Impor Mobil Eropa

    Saham Harley – Davidson turun 0,6 persen menjadi US$41.32 atau sekitar Rp587 ribu per lembar setelah sebelumnya anjlok 6 persen pada perdagangan Senin, 25 Juni 2018.

    Pada Senin, manajemen Harley – Davidson melansir perusahaan akan memindahkan pabrik yang memproduksi motor untuk pasar Eropa pasca terjadinya perang tarif antara Amerika dan Uni Eropa.

    Manajemen beralasan kenaikan tarif impor motor oleh UE sebagai balasan atas kenaikan tarif impor baja dan alumunium oleh AS, membuat biaya produksi motor bertambah sekitar US$90 – 100 juta atau sekitar Rp1,3 – 1,4 triliun per tahun.

    Manajemen Harley - Davidson mengaku tidak ingin menanggapi cuitan Trump. Namun, juru bicara Michale Pflughoeft mengatakan manajemen sedang mengkaji dampak pemindahan produksi ini terhadap fasilitas produksi di AS. Thailand disebut-sebut sebagai salah satu negara yang berpotensi menjadi basis produksi motor gede ini untuk pasar Eropa.

    Menurut Trump, keputusan manajemen Harley – Davidson untuk memindahkan fasilitasnya ke luar negeri sudah disebut-sebut oleh manajemen sejak Januari 2018. Media CBS News melansir Trump mengatakan ini untuk menunjukkan pemidahan pabrik itu bukanlah kesalahannya.

    “Awal tahun ini, Harley – Davidson mengatakan mereka akan memindahkan pabriknya di Kansas ke Thailand. Itu jauh sebelum kebijakan tarif diumumkan. Maka mereka hanya menggunakan tarif/perang dagang sebagai alasan,” kata Trump.

    Namun, seperti dilansir Reuters pada Februari 2018, CEO Harley – Davidson, Matt Levatich, mengatakan penutupan pabrik di Kansas tidak terkait dengan keputusan membangun pabrik di Thailand.

    Pembukaan pabrik di Thailand, yang disitir Trump dan akan dilakukan pada akhir tahun ini, dilakukan untuk menghindarkan pajak impor 60 persen. Ini sekaligus upaya manajemen Harley – Davidson mendapatkan insentif pajak untuk ekspor motor ke kawasan ASEAN.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.