Sabtu, 20 Oktober 2018

Amerika Serikat Sahkan Penggunaan Obat Ganja untuk Epilepsi

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Karyawan mengolah ganja di laboratorium produsen obat-obatan herbal Bionorica di Neumarkt, Jerman, 9 Februari 2018. Jerman telah melegalkan penggunaan ganja untuk medis pada Maret tahun lalu. REUTERS

    Karyawan mengolah ganja di laboratorium produsen obat-obatan herbal Bionorica di Neumarkt, Jerman, 9 Februari 2018. Jerman telah melegalkan penggunaan ganja untuk medis pada Maret tahun lalu. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat mengesahkan undang-undang yang memperbolehkan GWS Pharmeceuitcals Plc menggunakan ganja untuk pengobatan epilepsi pada Senin, 25 Juni 2018, dan menjadikan penggunaan bahan baku ganja untuk tujuan medis yang pertama. Pengesahan ini termasuk memperbolehkan pasien setelah dua tahun atau lebih untuk perawatan Dravet Syndrome (DS) dan Lennox-Gastaut (LGS).

    "Pengesahan ini sebagai titik kemajuan dan program pengembangan penggunaan bahan yang mengandung ganja untuk kepentingan terapi medis," kata Scott Gottlieb, Komisioner Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan Amerika Serikat, seperti dilaporkan Reuters, Selasa, 26 Juni 2018.

    Baca: Parlemen Kanada Akhirnya Mengesahkan UU Legalisasi Ganja

    Obat epidiolex mengandung cannabidiol (CBD), salah satu unsur dari ratusan unsur yang ada di ganja dan mengandung kurang dari 0,1 persen tetrahydrocannabinol (THC), yang merupakan komponen memabukkan dalam ganja.

    GWS Pharma memiliki pasokan ganja dari rumah kaca di Inggris untuk mengolah dan memastikan kandungan yang ingin dimasukkan sebagai obat. Meskipun THC dalam ganja bisa mengakibatkan halusinasi dan paranoia, unsur CBD bisa digunakan untuk mengobati penyakit kejiwaan.

    Baca: Kanada akan Tetapkan Usia Minimal 18 Tahun untuk Konsumsi Ganja

    GW Pharma mengatakan klasifikasi komponen dalam ganja akan dilakukan selama 90 hari. Namun perusahaan belum memastikan harga untuk obat ini. Produsen obat GW Pharmeceuticals telah meneliti obat ini terhadap 500 anak-anak dan orang dewasa dengan perawatan menggunakan ganja.

    Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan AS (FDA), mengutip Associated Press, mengatakan epilepsi bisa diredam menggunakan obat berbahan ganja ini, dipadukan dengan perawatan obat-obatan epilepsi. Sebelumnya, FDA juga menggunakan ganja untuk mengobati penurunan berat badan bagi penderita HIV.

    Produk-produk berbahan ganja dipamerkan di Konvensi Asosiasi Ganja Internasional di New York, Amerika Serikat, Ahad 12 Oktober 2014. REUTERS/Eduardo Munoz

    Minyak CBD saat ini dijual bebas secara online dan di toko khusus di seluruh Amerika Serikat meski status legalnya masih belum jelas. Produsen minyak CBD mengatakan minyak diproduksi dari ganja yang mengandung sedikit THC, yang bisa digunakan untuk produksi pakaian, makanan, dan sebagainya. FDA sempat menyampaikan klaim produsen CBD bahwa produk ganja mereka bisa mengobati berbagai penyakit khusus, seperti kanker atau Alzheimer.

    Baca: Nonton Piala Dunia 2018 Boleh Bawa Ganja? Tilik Dulu Aturannya

    Sembilan negara bagian dan Distrik Columbia telah melegalkan ganja untuk kepentingan pribadi. Sedangkan 20 negara bagian lain telah melegalkan ganja untuk kepentingan medis, tapi pemerintah Amerika Serikat memperketat pengawasan dan klasifikasi unsur ganja untuk kepentingan medis, sama halnya dalam penggunaan medis yang menggunakan unsur narkoba heroin dan LSD.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bravo 5 dan Cakra 19, Dua Tim Luhut untuk Jokowi di Pilpres 2019

    Menyandang nama Tim Bravo 5 dan Cakra 19, dua gugus purnawirawan Jenderal TNI menjadi tim bayangan pemenangan Jokowi - Ma'ruf Amin di Pilpres 2019.