Selasa, 23 Oktober 2018

Dari Nigeria ke Aljazair: Perjalanan Maut Imigran di Gurun Sahara

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tiga pria berjalan menuju utara ke Aljazair setelah melintasi pos perbatasan Assamaka di Nigeria utara pada Minggu, 3 Juni 2018.[Foto AP/Jerome Delay]

    Tiga pria berjalan menuju utara ke Aljazair setelah melintasi pos perbatasan Assamaka di Nigeria utara pada Minggu, 3 Juni 2018.[Foto AP/Jerome Delay]

    TEMPO.CO, Jakarta - Dari pos perbatasan yang terasing Nigeria Utara, dari jilatan panas padang pasir gurun Sahara benua Afrika, ratusan imigran yang diusir terlihat di muka cakrawala. Mereka tampak seperti bintik-bintik di kejauhan, berjalan dengan susah payah, goyah, di tengah yang terkenal dengan sengatan kejam panas mataharinya.

    Di Sahara, padang pasir Aljazair, telah dilewati 13.000 lebih orang dalam 14 bulan terakhir, termasuk perempuan hamil dan anak-anak. Tanpa makanan atau air dan memaksa mereka berjalan, kadang-kadang di bawah todongan senjata, di bawah suhu hingga 48 derajat Celcius.

    Baca: Spanyol Selamatkan 700 Imigran Afrika di Mediterania

    Di Nigeria, di mana mayoritas orang-orang yang beruntung terpincang-pincang melintasi tanah tak berpenghuni sepanjang 15 kilometer ke Assamaka, kota dengan bangunan yang tenggelam ke dalam lautan pasir. Mereka berjalan dalam kondisi bingung dan dehidrasi, berkeliling berhari-hari sebelum pasukan penyelamat PBB menemukan mereka.

    "Perempuan tergeletak mati, laki-laki ..... Orang-orang hilang di padang pasir karena mereka tidak tahu jalannya," kata Janet Kamara, salah satu imigran yang sedang hamil dalam perjalanan usai diselamatkan oleh tim PBB, seperti dilansir Associated Press, 25 Juni 2018.

    Tubuhnya masih sakit karena bayinya mati usai melahirkan selama perjalanan dan terpaksa ditinggal di Sahara dan dimakamkan di sebuah kuburan pasir. Darah melesat di kakinya beberapa hari kemudian, dan terlihat pergelangan kakinya masih bengkak.


    "Saya kehilangan putra saya, anak saya," kata Kamara, seorang warga negara Liberia yang menjalankan usaha rumahan yang menjual minuman dan makanan di Aljazair dan diusir pada Mei lalu.

    Warga Nigeria dan migran negara dunia ketiga lainnya menuju Libya dari Agadez, Nigeria, Senin, 4 Juni 2018. Migran dari seluruh sub-Sahara Afrika seperti Mali, Gambia, Guinea, Pantai Gading, Nigeria dan lainnya adalah negara asal migran massal menuju Eropa. Sebagian melarikan diri dari konflik negaranya dan yang lain berharap untuk mencari nafkah di benua biru.[Foto AP/Jerome Delay]

    Pengusiran massal Aljazair telah meningkat sejak Oktober 2017, karena Uni Eropa memperbarui tekanan pada negara-negara Afrika Utara untuk menghadang para imigran pergi ke utara menuju Eropa melalui Laut Mediterania melalui Spanyol. Para imigran ini dari seluruh sub-Sahara Afrika, mulai dari Mali, Gambia, Guinea, Pantai Gading, Nigeria dan lainnya. Mereka adalah bagian dari migrasi massal menuju Eropa, beberapa orang yang melarikan diri dari konflik di negara asal, sementara yang lain hanya berharap untuk mencari nafkah.

    Baca: Piala Dunia Rusia Dimanfaatkan Imigran Gelap untuk Masuk Eropa

    Aljazair tidak memberikan angka pasti jumlah yang diusir. Tetapi jumlah orang yang menyeberang ke Nigeria telah meningkat sejak Organisasi Internasional untuk Migrasi mulai mencatat pada Mei 2017, ketika 135 meninggal saat menyebrang, hingga tercatat korban meninggal mencapai 2.888 pada April 2018. Secara keseluruhan, IOM mencatat total 11.276 pria, perempuan dan anak-anak selamat dari rombongan. Sementara sedikitnya 2.500 lainnya dipaksa melakukan perjalanan serupa pada 2018 untuk melewati gurun Sahara ke negara tetangga Mali.

    Migran dan penduduk setempat menunggu truk tiba dari Aljazair untuk membongkar muatan mereka pada Minggu, 3 Juni 2018, untuk mendapatkan uang guna membayar perjalanan ke utara, di pos perdagangan di padang pasir terluas, Sahara, yang memisahkan Nigeria dan Aljazair utara.[Foto AP/Jerome Delay]

    Para imigran selamat menggambarkan ratusan orang sekaligus, berdesakan dalam truk terbuka menuju selatan selama enam hingga delapan jam dari lokasi yang dikenal sebagai "Titik Nol", kemudian di tengah perjalanan mereka diturunkan di padang pasir di Nigeria. Mereka dipaksa berjalan, terkadang dengan todongan senjata. Pada awal Juni, sebanyak 217 pria, perempuan dan anak-anak diturunkan dari truk jauh sebelum mencapai Titik Nol, 30 kilometer dari sumber air terdekat.

    “Ada orang-orang yang tidak tahan menerimanya. Mereka duduk dan kami meninggalkan mereka. Mereka sangat menderita,” kata Aliou Kande, pemuda berusia 18 tahun dari Senegal.

    Kande mengatakan hampir puluhan orang menyerah dan ambruk di padang pasir. Kelompoknya yang berjumlah 1.000 orang hilang setelah berjalan dari jam 8 pagi sampai jam 7 malam, katanya. Kemudian dia tidak pernah melihat orang yang hilang tersebut.

    Baca: Italia Usir Kapal Berisi 600 Pengungsi, Macron Kecam Italia

    Kande mengatakan polisi Aljazair mencuri semua yang dia dapatkan ketika dia pertama kali ditahan, yakni US$ 340 atau Rp 4,8 juta dan ponselnya.

    “Mereka melemparkan kami ke padang pasir, tanpa telepon kami, tanpa uang. Saya bahkan tidak bisa menjelaskannya,” kata Kande dengan nada geram.

    “Mereka membawa Anda ke ujung Aljazair, sampai akhir di tengah padang pasir, dan mereka menunjukkan kepada Anda bahwa ini adalah Niger,” kata Tamba Dennis, seorang warga Liberia lainnya yang berada di Aljazair dengan visa kerja yang kedaluwarsa.

    "Jika Anda tidak dapat membawa air, beberapa orang meninggal di perjalanan."

    Otoritas Aljazair menolak untuk mengomentari tuduhan ini. Aljazair membantah kritik dari IOM dan organisasi lain bahwa mereka melakukan pelanggaran hak asasi manusia dengan menelantarkan para migran di padang pasir, menyebut tuduhan itu sebagai kampanye jahat yang didengungkan negara-negara tetangga.

    Selain itu, ribuan imigran Nigeria diusir langsung dari rumah mereka ke dalam konvoi truk dan bus. Ini adalah penerapan perjanjian 2015 antara Nigeria dan Aljazair untuk menangani warga Nigeri yang tinggal secara ilegal di negara tetangga mereka di utara. Bahkan ada laporan yang menyebut seorang ibu yang mayatnya ditemukan di dalam bus yang macet di perjalanan 450 kilometer dari perbatasan.

    Migran naik ke truk untuk menuju utara ke Aljazair di pos perbatasan Assamaka di Nigeria utara padaMinggu, 3 Juni 2018. Organisasi Internasional untuk Migrasi memperkirakan bahwa untuk setiap migran dilaporkan meninggal melintasi Mediterania dan dua orang tersesat di padang pasir.[Foto AP / Jerome Delay]

    Jumlah imigran yang dikirim pulang dalam konvoi ini, yang hampir semuanya warga Nigeria, juga melonjak setidaknya menjadi 14.446 sejak Agustus 2017, dibandingkan dengan total keseluruhan 9.290 imigran pada 2016.

    Baca: Buntut Pengusiran Kapal Pengungsi, Italia Panggil Dubes Prancis

    Perjalanan dari Nigeria ke Aljazair atau Libya adalah harapan untuk menuju Eropa, yang dengan susah payah menerobos padang pasir. Jumlah imigran yang pergi ke Aljazair ini meningkat sebagai dampak tidak langsung pemblokiran oleh negara-negara Eropa atas penyeberangan Libya, ungkap Camille Le Coz, seorang analis di Migration Policy Institute di Brussels.

    Tetapi tidak ada pilihan lain dan para imigran ini meninggal dengan dua cara, pertama adalah panas yang amat kering dan pasir Sahara yang bertiup menyelimuti sisa-sisa jasad. Kedua, mereka meninggal saat menyeberangi Laut Tengah untuk mencapai benua Eropa yang tak kurang mengerikan dengan ganasnya gurun Sahara.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Saham Lippo yang Jebol dan yang Melambung Dihantam Kasus Meikarta

    Jebloknya saham perusahaan-perusahaan Grup Lippo telah dimulai Selasa 16 Oktober 2018, sehari setelah KPK menangkap dan menetapkan Bupati Bekasi.