Malaysia Lanjutkan Pembangunan Menara Tertinggi se-Asia Tenggara

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto 30 Maret 2018, memperlihatkan proyek gedung pencakar langit The Exchange 106, di kompleks Tun Razak Exchange (TRX) di Kuala Lumpur, Malaysia.[AP Photo/Yeen Ling Chong]

    Foto 30 Maret 2018, memperlihatkan proyek gedung pencakar langit The Exchange 106, di kompleks Tun Razak Exchange (TRX) di Kuala Lumpur, Malaysia.[AP Photo/Yeen Ling Chong]

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Malaysia tidak akan membatalkan proyek gedung pencakar langit menara The Exchange 106, yang disebut-sebut sebagai gedung tertinggi di Asia Tenggara, meskipun US$ 747 juta atau Rp 10,5 triliun yang dikucurkan untuk proyek telah disalahgunakan dalam skandal korupsi 1MDB yang melibatkan mantan perdana menteri. Najib Razak.

    Menteri Keuangan Lim Guan Eng mengatakan pemerintah Najib Razak sejak 2012 telah menjamin pinjaman, memperpanjang uang muka dan membeli tanah dari TRX City Sendirian Berhad sebesar hampir US$ 921 juta atau 12 triliun, tetapi US$ 764 juta atau Rp 10,7 triliun dari digelapkan oleh 1MDB, terutama untuk membayar pinjamannya.

    Baca: Mahathir: Mustahil Najib Tak Tahu Transaksi di 1MDB

    Penggelapan dana oleh 1MDB terungkap sebulan setelah koalisi Najib Razak, yang telah memerintah Malaysia sejak kemerdekaan dari Inggris pada 1957, mengalami kekalahan mengejutkan dalam pemilihan 9 Mei lalu. Dana yang digelapkan oleh 1MDB sedang diselidiki di AS dan beberapa negara lain karena dugaan pencurian dan pencucian uang.

    Dilaporkan Associated Press, 22 Juni 2018, Lim mengatakan dana TRX yang dicuri adalah contoh klasik tentang bagaimana uang pemerintah disalahgunakan oleh 1MDB dan bahwa ia telah menginstruksikan manajemen TRX untuk mengajukan keluhan kepada pihak berwenang yang menyelidiki dana yang digelapkan.

    Kawasan TRX city di Kuala Lumpur, Malaysia.[trx.my]

    TRX telah meminta bantuan keuangan dan Lim mengatakan pemerintah memutuskan untuk menyuntikkan US$ 648 juta atau Rp 9 triliun untuk menyelesaikan proyek dan membantu menutup dana yang dicuri dan membayar pinjaman. Jika proyek itu dibatalkan, pemerintah harus membayar US$ 872 atau Rp 12,2 triliun juta sebagai kompensasi dan kehilangan RM 3,7 miliar atau Rp 13 triliun yang diberikan kepada TRX sebelumnya.

    "Kami tidak senang tetapi kami tidak tahan untuk melihat pemandangan yang besar di jantung kota Kuala Lumpur," kata Lim, menambahkan bahwa itu juga akan meyakinkan investor asing yang terlibat dalam proyek ini.

    "Menyelesaikan TRX akan memungkinkan nilai penuh dari proyek setidaknya US$ 1,9 miliar atau Rp 26,7 triliun untuk direalisasikan."

    Baca: Panama Papers Ungkap Adik Najib Razak Miliki Perusahaan Cangkang

    Gedung pencakar langit Exchange 106, yang hampir selesai, berada di jantung Tun Razak Exchange, distrik keuangan yang dibangun oleh TRX City di Kuala Lumpur dan diberi nama oleh Najib Razak. TRX City juga memiliki pengembangan properti besar-besaran di bagian lain kota.

    Lim mengatakan TRX City, bekas anak perusahaan 1MDB, dipindahkan ke Departemen Keuangan tahun lalu setelah tidak dapat memperoleh penjualan tanah atau pembiayaan bank karena hubungannya dengan 1MDB. Sementara itu, pemerintah tetap memperoleh hak milik meskipun Mulia Group Indonesia gagal memenuhi kewajiban berdasarkan perjanjian kompensasi.

    Baca: Sosok Nazrin, CEO Startup Malaysia yang Tewas Akibat Ledakan HP

    Menurut Menteri Keuangan Lim Guan Eng, Mulia Group akan mulai membayar kembali jumlah yang diinvestasikan oleh Pemerintah sebagai modal ketika proyek hampir selesai. Saat ini proyek menara sudah mencapai tahap 90 persen, sementara pengembangan tahap pertama TRX pada penyelesaian 80 persen.

    “Menurut perjanjian, mereka harus membayar dalam jangka waktu tertentu dan memberi kami tambahan RM 100 miliar atau 352 triliun. Jika mereka membayar kita setahun kemudian, mereka akan memberi RM 200 miliar atau Rp 704 triliun. Jika mereka membayar setelah itu, seluruh bangunan akan menjadi milik Kementerian Keuangan," kata Lim Guan Eng, seperti dilansir dari The Star.

    Baca: PM Mahathir Setuju Kasus Tewasnya Model Altantuya Dibuka lagi

    Menara Exchange 106, yang ditetapkan menjadi gedung pencakar langit tertinggi Malaysia setelah selesai, saat ini dikembangkan bersama oleh unit Kementerian Keuangan, MKD Signature Sdn Bhd dan Mulia Group. MKD Signature memiliki 51 persen dari entitas joint-venture, sementara pengembang properti Mulia dari Mulia Group memiliki 49 persen sisanya. Gedung setinggi 492 meter dijadwalkan selesai pada akhir tahun ini. Sejak pemilihan umum 9 Mei, pemerintah baru Malaysia, Pakatan Harapan, sedang meninjau semua proyek besar yang dilakukan oleh pemerintah Najib Razak, dan proyek TRX seluas 70 hektar, yang termasuk di dalamnya proyek menara Exchange 106 adalah salah satunya.

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.