Kamboja Tarik Lonceng dari Semua Sekolah, Ini Alasannya

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Raja Kamboja Norodom Sihamoni membaca dokumen ketika dia menghadiri pertemuan senat di Phnom Penh, Kamboja, 23 April 2018. REUTERS

    Raja Kamboja Norodom Sihamoni membaca dokumen ketika dia menghadiri pertemuan senat di Phnom Penh, Kamboja, 23 April 2018. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Kamboja memerintahkan sekolah-sekolah di seluruh negeri untuk berhenti menggunakan bekas persenjataan perang untuk dijadikan sebagai lonceng sekolah.

    Pengumuman pada Rabu, 13 Juni 2018, diberikan untuk mencegah terjadinya kemungkinan ledakan.

    "Semua sekolah harus berhenti menggunakan persenjataan yang tidak meledak untuk diimprovisasi sebagai lonceng," demikian pernyataan otoritas pendidikan Kamboja, seperti dilansir The Star pada Kamis, 14 Juni 2018.

    Baca: Polisi Kamboja Tangkap Guru SD Karena Hina Raja

    Hampir tiga dekade perang sipil dan pemboman Amerika Serikat yang dimulai pada 1960-an menjadikan Kamboja sebagai salah satu negara yang paling banyak dibom di dunia. Pasca perang, banyak di antaranya yang tersisa kemudian dimanfaatkan untuk berbagai keperluan oleh warga sipil.

    Mengubah bom atau cangkangnya menjadi lonceng adalah praktik yang tersebar luas segera setelah jatuhnya Khmer Merah pada 1979. Menyusul sistem pendidikan Kamboja dihancurkan dan para guru menggunakan materi apa pun yang tersedia.

    Cangkang bom biasanya dinonaktifkan pada saat mulai digunakan.

    Baca: Kamboja Kerahkan 1.570 Polisi untuk Awasi Ujian SMA

    Tidak ada laporan yang diketahui tentang lonceng yang meledak, tetapi banyak anak-anak yang tewas dalam ledakan di halaman sekolah setelah bermain dengan jenis-jenis senjata lainnya seperti granat dan ranjau darat.

    Pada Januari tahun lalu ribuan warga Kamboja dievakuasi setelah dua bom air mata Amerika Serikat dari era perang Vietnam ditemukan di dekat sebuah sekolah dasar di provinsi Svay Vieng.

    Sekitar 20.000 orang tewas dan ratusan ribu lainnya terluka sejak tahun 1979 oleh bom sisa perang, meskipun  jumlahnya menurun secara signifikan atas bantuan sejumlah organisasi penghapus ranjau  yang beroperasi di Kamboja.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.