Senin, 20 Agustus 2018

Komunitas Palestina di Indonesia Kecewa Kunjungan Yahya ke Israel

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak membawa bendera Palestina dalam aksi peringatan Hari Al-Quds Internasional di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS), Jakarta, Jumat, 8 Juni 2018. Aksi ini ditujukan untuk membela bangsa Palestina yang teraniaya oleh penguasaan Israel. TEMPO/Amston Probel

    Seorang anak membawa bendera Palestina dalam aksi peringatan Hari Al-Quds Internasional di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS), Jakarta, Jumat, 8 Juni 2018. Aksi ini ditujukan untuk membela bangsa Palestina yang teraniaya oleh penguasaan Israel. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Komunitas Palestina di Indonesia menyesalkan kunjungan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Indonesia, Yahya Cholil Staquf, ke Israel. Sebab langkah ini diambil pada waktu yang tidak pas, yakni ketika Israel melanjutkan kebijakanya yang rasis dan agresif terhadap rakyat Palestina saat ratusan masyarakat Palestina melakukan unjuk rasa damai Pawai Kepulangan Maret 2018. Dalam unjuk rasa itu, ratusan pengunjuk rasa tewas dan ribuan orang luka-luka.

    "Kami melihat waktu kunjungan ini dan di tempatnya (Yerusalem) adalah bentuk dukungan kepada posisi Israel dan Amerika Serikat yang mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Langkah ini merupakan kelalaian terhadap hak rakyat Palestina dan mendukung posisi kebijakan penjajah yang menargetkan tempat-tempat suci buat umat Muslim dan Kristen di Yerusalem," kata Murad Halayqa, Ketua Komunitas Palestina Indonesia, Rabu, 13 Juni 2018.

    Baca: Komunitas Palestina di Indonesia Mengecam Teror Bom Surabaya

    Pengunjuk rasa mengenakan masker berwarna bendera Palestina saat aksi Hari Al Quds Internasional di depan Kedutaan Besar AS, Jakarta, Jumat, 8 Juni 2018. AS resmi membuka kedutaannya di Yerusalem diikuti Guatemala dan Paraguay. ANTARA/Hafidz Mubarak A

    Menurut Halayqa, pihaknya pun menyesalkan pertemuan Yahya dengan Wakil Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, David Friedman, yang merupakan pendukung pembangunan pemukiman Ilegal Israel di tanah Palestina. Friedman juga sosok yang mengancam mengganti Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, pada 29 Mei 2018. Dengan begitu, Komunitas Palestina menganggap pertemuan Friedman dan Yahya sama dengan bentuk dukungan terhadap posisi Israel dan dukungan jelas untuk konspirasi yang menargetkan rakyat dan kepemimpinan Palestina.

    Baca: Penghacuran Rumah Palestina, Parlemen Inggris Protes Israel

    Halayqa menilai tidak ada alasan atau logika yang dapat membenarkan langkah Yahya tersebut, khususnya setelah keputusan otoritas Israel pada 29 Mei 2018 untuk mencegah umat Kristen dan Muslim Indonesia untuk mengunjungi tempat-tempat suci di Yerusalem dan wilayah Palestina.

    Komunitas Palestina di Indonesia dan rakyat Palestina pada umumnya menghargai dukungan Indonesia, baik di tingkat resmi maupun masyarakat terhadap perjuangan bangsa Palestina untuk mendirikan negara yang merdeka dengan Yerusalem sebagai ibukota. Komunitas Palestina pun puas terhadap sikap penolakan dari masyarakat Indonesia secara keseluruhan atas kunjungan Yahya, termasuk dari organisasi dan badan-badan keagamaan terbesar di Indonesia, seperti MUI dan Muhammadiyah.

    Yahya datang ke Israel pada Minggu 10 Juni 2018 atas undangan Dewan Israel urusan luar negeri atau ICFR. Dalam kesempatan itu, Yahya didapuk sebagai pembicara dalam diskusi yang dipimpin Direktur Forum Global AJC, Rabi David Rosen. Sekitar 2.400 orang menghadiri acara tersebut.

    Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Adita Irawati mengatakan keberangkatan anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Yahya Cholil Staquf, ke Israel untuk menyampaikan kuliah umum di acara yang diselenggarakan oleh The Israel Council on Foreign Relations tidak mewakili pemerintah.

    "Atas nama pribadi, bukan sebagai Wantimpres," kata Adita saat dihubungi Tempo pada Ahad, 10 Juni 2018.

    Hal senada juga disampaikan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Robikin Emhas. 

    "Kehadiran Gus Yahya Staquf adalah selaku pribadi, bukan dalam kapasitas sebagai Khatib Aam PBNU, apalagi mewakili PBNU," kata Robikin lewat pesan singkat.

    Robikin mengatakan tidak ada kerja sama program maupun kelembagaan antara PBNU dan Israel. Ia juga meyakini kehadiran Yahya ke Israel bertujuan untuk memberi dukungan bagi Palestina.  Robikin menuturkan konflik Israel-Palestina tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Karena itu, perlu gagasan yang hebat untuk memberi harapan perdamaian bagi seluruh pihak secara adil.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Twice Konser Di Jakarta

    Twice akan mengunjungi Jakarta pada 25 Agustus 2018. Konser ini adalah pertunjukan pertama mereka di Indonesia. Berikut fakta-fakta tentang mereka.