Minggu, 21 Oktober 2018

Pohon Baobab Tua dan Besar di Afrika Mati Mendadak, Ada Apa?

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pohon Baobab [inhabitant.com]

    Pohon Baobab [inhabitant.com]

    TEMPO.CO, Jakarta -  Pohon Baobab, pohon purba dan terbesar di dunia dan pohon ikonik benua Afrika, satu per satu mati secara mendadak dalam kurun waktu berdekatan. Salah satu pohon Baobab terbesar di benua Afrika, yakni pohon Platland atau yang juga dikenal Sunland yang digunakan untuk bar yang mampu menampung hingga 15 orang. Pohon ini memiliki keliling 33 meter dan tinggi 19 meter yang berusia 1.000 tahun lebih, sejak musim semi 2016 pohon Baobab ini mulai membusuk dan pada November 2017 pohon hancur sepenuhnya. 

    Kematian pohon Baobab ini rupanya bukan hal baru, sebab survei tentang pohon Baobab di sejumlah negara Afrika bagian selatan menemukan bahwa puluhan pohon Baobab tertua dan terbesar telah mati dalam beberapa dekade terakhir, seperti dilansir dari NPR, 13 Juni 2018.

    Baca: Pria Nigeria Jadikan BMW Seharga Rp 922 Juta Peti Mati Ayahnya


    Para ilmuwan mempertanyakan penyebab di balik kematian misterius pohon Baobab dan hipotesis awal menyebut perubahan iklim sebagai penyebab yang paling mungkin.

    "Penurunan bencana seperti itu sangat tidak terduga," kata Adrian Patrut, seorang ahli kimia di Universitas Babe-Bolyai Rumania yang menyelenggarakan survei dan diterbitkan dalam jurnal ilmiah.

    "Ini perasaan yang aneh sebab ini adalah pohon yang dapat hidup selama 2.000 tahun atau lebih, dan kita melihat bahwa mereka sekarat satu demi satu selama masa kita. Ini secara statistik sangat tidak mungkin."

    Baca: Sempat Dikubur, Bayi di Brasil Bertahan Hidup secara Ajaib

    Patrut mulai meneliti kematian Baobab dengan menggunakan penanggalan radiokarbon untuk mengukur usia Baobab. Survei Patrut dimulai pada 2005 dan mencakup lebih dari 60 pohon. Dari jumlah ini, sekitar 24 memiliki ukuran dan usia tua, termasuk baobab Platland dan sejumlah Baobab lain yang menurut perhitungan Patrut berusia 2.000 tahun lebih.

    Patrut mengatakan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami penyebab kematian, tetapi ia percaya penjelasan yang paling mungkin adalah perubahan iklim.

    "Pohon-pohon ini di bawah tekanan akibat peningkatan suhu dan kekeringan," katanya.

    Para ilmuwan semakin khawatir tentang status kesehatan baobab di seluruh Afrika, menurut Carla Staver, seorang ahli ekologi sabana di Universitas Yale.

    "Survei tersebut mengkhawatirkan komunitas konservasi di Afrika bagian selatan tentang usia panjang Baobab. Perubahan iklim tentu saja tampak seperti penyebabnya," ujar Staver.

    Pohon Baobab [africageographic.com]

    Dalam risetnya, seperti yang dilansir dari Smithsonian Magazine, selama 15 tahun Patrut telah meneliti 60 Baobab tertua dan terbesar. Namun selama beberapa tahun terakhir 13 pohon Baobab yang ia teliti mati, tiba-tiba membusuk dan rusak.

    Negara di selatan benua Afrika termasuk negara-negara seperti Botswana, Namibia, Afrika Selatan dan Zimbabwe, selama beberapa dekade mendatang akan mengalami beberapa peningkatan suhu yang paling tinggi dan menurunnya curah hujan.

    Baobab, terutama yang berusia tua, bisa lebih rentan terhadap kekeringan. Namun David Baum, seorang ahli ekologi di University of Wisconsin, Amerika Serikat, mengatakan lebih banyak bukti dibutuhkan untuk memperkuat hubungan antara perubahan iklim dan kematian Baobab. Faktor lain, termasuk campur tangan manusia seperti mengubah Baobab menjadi bar atau rumah juga bisa menjadi pemicu kematian Baobab.

    "sangat mungkin bahwa tindakan manusia, apakah dengan mengubah lanskap lokal atau mengubah iklim global, telah menyebabkan kematian begitu banyak Baobab besar," ungkap Baum.

    Baca: Perempuan Gugat NASA untuk Kepemilikan Debu Bulan Neil Armstrong

    Pohon yang tertua dalam survei Patrut adalah Baobab yang ditemukan di Zimbabwe yang disebut Panke. Baobab ini mati pada 2011 dan menurut Patrut, Pohon ini berusia sekitar 2.500 tahun, yang berarti pohon Baobab ini tumbuh beberapa tahun setelah berdirinya Republik Romawi.

    Pohon Baobab merupakan pohon yang memiliki kedekatan budaya yang mendalam bagi banyak masyarakat di Afrika bagian selatan. Ada mitos di antara masyarakat lokal yang tinggal di dekat sungai Zambezi di Afrika selatan bahwa dewa membuat pohon baobab muda ditanam terbalik, bahwa para dewa mencabut pohon Baobab muda dan ditanam kembali dengan posisi terbalik dengan akar menghadap ke atas. Masyarakat Afrika sering menjadikan pohon Baobab sebagai tempat pemujaan dan tempat pertemuan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.