Jumat, 22 Juni 2018

Trump Akan Akhiri Latihan Militer Bersama di Semenanjung Korea

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Presiden AS Donald Trump saat menunjukkan kartu ucapan ulang tahun untuknya ketika makan siang bersama Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, di Singapura, Senin, 11 Juni 2018. Ministry of Communications and Information Singapore via AP

    Ekspresi Presiden AS Donald Trump saat menunjukkan kartu ucapan ulang tahun untuknya ketika makan siang bersama Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, di Singapura, Senin, 11 Juni 2018. Ministry of Communications and Information Singapore via AP

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyiratkan untuk mengakhiri latihan militer bersama Korea Selatan di Semenanjung Korea.

    Pernyataan mengejutkan sekaligus membuat bingung banyak pihak itu disampaikan Trump saat melakukan konferensi pers setelah pertemuan puncak dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Singapura pada Selasa, 12 Juni 2018.

    Baca: Empat Kesepakatan Trump dan Kim Jong Un

    Trump menyatakan tengah menimbang untuk mengakhiri permainan perang mahal dan provokatif di Semenanjung Korea.

    "Dalam keadaan kami bernegosiasi dengan kesepakatan lengkap yang sangat komprehensif, saya pikir itu tidak pantas untuk terus melakukan permainan perang yang mahal," kata Trump. 

    "Kami membayar sebagian besar biayanya, kami terbang dengan pesawat pembom dari Guam. Itu adalah waktu yang lama bagi pesawat besar terbang ke Korea Selatan untuk berlatih dan kemudian menjatuhkan bom ke seluruh tempat dan kemudian kembali ke Guam. Saya tahu banyak tentang pesawat terbang, itu sangat mahal," tambahnya.

    Trump juga menimbang untuk memindahkan pasukan Amerika Serikat dari Korea Selatan di beberapa titik.

    Baca: Pertemuan Selesai, Kim Jong Un: Dunia Akan Melihat Perubahan

    "Saya ingin mengusir tentara kami. Saya ingin membawa tentara kami kembali ke rumah," kata Trump, seperti dilansir CNN pada 12 Juni 2018.

    Banyak yang meyakini itu adalah deklarasi untuk menghentikan latihan perang tahunan yang selama ini kerap dikecam Pyongyang.

    Meskipun demikian, Istana Biru Kepresidenan Korea Selatan mengatakan perlu untuk mencari tahu makna atau niat yang tepat dari pernyataan Trump, sambil menambahkan bersedia mengeksplorasi berbagai langkah untuk membantu dialog itu terus bergerak maju.

    Bahkan pejabat Korsel mengatakan awalnya dia mengira Trump salah bicara.

    Seusai melakukan pertemuan dengan Kim Jong Un, Trump sempat berbicara melalui telepon selama 20 menit dengan presiden Korea Selatan, Moon Jae-in. Namun keduanya tidak menyinggung soal penghentian ataupun penangguhan latihan militer bersama.

    Juru bicara militer AS di Korea, Jennifer Lovett mengatakan pihaknya belum menerima arahan untuk menghentikan latihan militer bersama.

    "USFK belum menerima panduan terbaru tentang pelaksanaan atau penghentian latihan musim gugur ini," kata Lovett.

    Dia menambahkan pihaknya masih berkoordinasi dengan Korea Selatan sampai menerima panduan terbaru dari Kementerian Pertahanan.

    Baca: Pertemuan Empat Mata Trump dan Kim Jong Un Bahas Ini

    Baik Pentagon dan Kementerian Pertahanan belum menyempurnakan pernyataan Trump tentang menangguhkan latihan, ini langkah yang telah lama ditentang oleh militer AS.

    Jika dilaksanakan, rencana itu bisa menjadi salah satu langkah paling konkrit dan kontraversi yang datang dari pertemuan Trump dan Kim Jong Un.

    Sekitar 28.500 tentara Amerika ditempatkan di Korea Selatan, warisan Perang Korea yang berakhir pada tahun 1953 dalam gencatan senjata yang menyebabkan kedua Korea masih dalam situasi perang.

    Instalasi militer utama Amerika Serikat di Korea Selatan berada di pangkalan udara Osan dan Kunsan, yang menampung skuadron yang terdiri dari jet tempur F-16 dan jet serangan darat A-10. Lainnya, termasuk yang di Humphreys, Daegu, Yongsan, dan Red Cloud / Casey dekat zona demiliterisasi dengan Korea Utara.

    Korea Utara sejak lama menyerukan untuk mengakhiri latihan militer di Semenanjung Korea yang dianggap sebagai provokatif. Beberapa kali Pyongyang menanggapi latihan itu dengan melakukan uji coba peluncuran rudal.

    CNN|REUTERS


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Hadiah Juara Piala Dunia Terus Melonjak

    Sejak digelar pada 1982, hadiah uang tunai untuk tim pemenang Piala Dunia terus meningkat. Berikut jumlah duit yang diterima para jawara global ini.