Jepang Protes Pemasangan Kabel Optik Rusia di Pulau Sengketa

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto yang diambil pada 2005 memperlihatkan Pulau Kunashiri, satu dari empat pulau yang diklaim Rusia sebagai Kepulauan Selatan Kuril di Selatan Rusia dan di teritori utara Jepang.[REUTERS/Kyodo]

    Foto yang diambil pada 2005 memperlihatkan Pulau Kunashiri, satu dari empat pulau yang diklaim Rusia sebagai Kepulauan Selatan Kuril di Selatan Rusia dan di teritori utara Jepang.[REUTERS/Kyodo]

    TEMPO.CO, Jakarta - Jepang mengkritik Rusia atas rencananya untuk memasang kabel serat optik ke pulau-pulau yang disengketakan oleh Tokyo dan Moskow. Jepang menyebut proyek pemasangan kabel ini sangat disayangkan dan tanpa dasar hukum.

    Hubungan antara Jepang dan Rusia memburuk selama beberapa dekade terakhir dikarenakan sengketa atas empat pulau, yang diduduki oleh Uni Soviet pada akhir teater penutupan Perang Dunia II tetapi pulau-pulau ini kemudian diklaim oleh Jepang usai perang. Pulau-pulau ini dikenal di Jepang sebagai Wilayah Utara dan di Rusia sebagai Kuril Selatan.

    Baca: Cina Gelar Pertemuan Blok Pertahanan, Rusia, India dan Iran Hadir

    "Sangat disayangkan bahwa proyek semacam itu sedang dilaksanakan di bawah pendudukan Rusia yang tidak memiliki dasar hukum," kata juru bicara pemerintah Jepang, Yoshihide Suga, seperti dilaporkan Channel News Asia, 11 Juni 2018.

    Surat kabar Sankei Shimbun Jepang melaporkan Rusia berencana untuk meletakkan kabel antara pulau yang disengketakan dan pulau Sakhalin di kawasan Pasifik Rusia. Surat kabar itu mengatakan Moskow telah memberi tahu Tokyo tentang proyek itu, yang akan dilaksanakan oleh perusahaan Cina Huawei Technologies.

    Baca: Trump Usul Rusia Masuk G7, Kanada Bilang Ini

    Pulau Kuril.[Sputnik International]


    Sengketa atas pulau-pulau itu telah mencegah kedua negara itu menandatangani perjanjian damai untuk mengakhiri permusuhan perang secara formal. Kunjungan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ke Rusia bulan lalu tidak menghasilkan kemajuan mengenai masalah ini.

    Secara strategis, penguasaan pulau-pulau memastikan Rusia memiliki akses ke Samudra Pasifik untuk armada Pasifik dan kapal selamnya yang berbasis di Vladivostok melalui selat.


    "Pertama-tama, jenis kegiatan ini, berdasarkan pendudukan [pulau-pulau] yang tidak adil secara hukum, tidak bertepatan dengan posisi Jepang dan menyebabkan penyesalan yang mendalam. Melalui jalur diplomatik, kami telah melaporkan posisi negara kami ke Rusia dan Cina dan telah mengajukan protes," kata Suga pada konferensi pers di Tokyo, seperti dikutip dari Sputniknews. Suga menyampaikan Kementerian Luar Negeri Jepang telah menyampaikan protes ke Kedutaan Besar Jepang di Rusia pada 7 Juni lalu.

    Baca: Presiden Putin: Perang Dunia III Bisa Akhiri Peradaban Manusia

    Pada 5 Juni, Rusia memberi tahu Jepang tentang niatnya untuk mulai memasang kabel serat optik bawah air dari Sakhalin menuju Kuril selatan pada 10 Juni, dengan kerjasama perusahaan Cina, Huawei.


    Raksasa telekomunikasi Rusia, Rostelecom, bermaksud untuk menyelesaikan peletakan jalur komunikasi serat optik bawah laut (FOCL) dari Sakhalin ke Kepulauan Kuril sebelum 2019 sebagai bagian dari program pengembangan Timur Jauh. Tujuan dari proyek ini adalah penciptaan infrastruktur modern di Timur Jauh Rusia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wiranto Ditusuk Seseorang yang Diduga Terpapar Radikalisme ISIS

    Menkopolhukam, Wiranto ditusuk oleh orang tak dikenal yang diduga terpapar paham radikalisme ISIS. Bagaimana latar belakang pelakunya?