Jumat, 22 Juni 2018

Perang Dagang, Kanada - Prancis Mencibir Amerika Serikat di G7

Reporter:
Editor:

Eka Yudha Saputra

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjuk rasa yang mengenakan topeng wajah para pemimpin negara-negara G7 berpose untuk sebuah selfie selama demonstrasi yang diselenggarakan oleh Oxfam di Giardini Naxos, Sisilia, Italia, 25 Mei 2017. Salah satu pendemo mengenakan topeng wajah Donald Trump. REUTERS/Dylan Martinez

    Pengunjuk rasa yang mengenakan topeng wajah para pemimpin negara-negara G7 berpose untuk sebuah selfie selama demonstrasi yang diselenggarakan oleh Oxfam di Giardini Naxos, Sisilia, Italia, 25 Mei 2017. Salah satu pendemo mengenakan topeng wajah Donald Trump. REUTERS/Dylan Martinez

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemimpin dari tujuh negara makmur bersiap untuk KTT G7 pada 8-7 Juni 2018 di Kanada dan akan membahas krisis pertama dalam sejarah 42 tahun kelompok G7, menyusul kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengedepankan proteksionisme berslogan America First yang berisiko menyebabkan perang dagang global dan perpecahan diplomatik antaranegara G7.

    Dalam upaya untuk membangun kembali industri Amerika Serikat, Trump telah memberlakukan tarif besar untuk impor baja dan aluminium, termasuk dari sekutu utama G7 seperti Kanada, Jepang dan Uni Eropa. Trump mengancam akan menggunakan undang-undang ketahanan nasional untuk melakukan hal yang sama bagi impor mobil.

    Baca: Kanada Negara Pertama G7 Legalkan Ganja untuk Pribadi

    Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang telah menjalin hubungan pribadi yang hangat dengan Donald Trump, mengatakan negara-negara G7 lainnya seperti Inggris, Kanada, Jerman, Italia dan Jepang, serta Prancis harus tetap "sopan" dan produktif tetapi memperingatkan bahwa tidak ada pemimpin selamanya, dan sebagai pertanda bahwa Eropa tidak akan menyerah dengan sepenuh hati kepada presiden AS.

    "Mungkin presiden Amerika tidak peduli dikucilkan hari ini, tetapi kami tidak keberatan menjadi enam jika perlu. Karena enam ini mewakili nilai, mewakili pasar ekonomi, dan lebih dari apa pun, mewakili kekuatan nyata di tingkat internasional saat ini," kata Macron seperti dilansir Reuters, 8 Juni 2018.

    Baca: Donald Trump Percepat Pertemuan G7 untuk KTT Singapura.

    Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau juga menginginkan diskusi kuat tentang perdagangan dan melawan tarif Amerika Serikat, tetapi anggota G7 lain seperti Jepang dan Italia tampaknya kurang ingin menantang presiden AS.

    Namun Donald Trump segera membalas kedua kepala negara itu. Dilansir dari Sputniknews, Donald Trump menulis di Twitternya pada Kamis 7 Juni.

    "Trudeau sangat marah, membawa-bawa hubungan AS dan Kanada selama bertahun-tahun dan segala hal lainnya ... tetapi dia tidak memunculkan fakta bahwa mereka menagih kita (Amerika Serikat) hingga 300 persen untuk produk susu, menyakiti para petani kita dan membunuh Pertanian kita!"

    Justin Trudeau berbincang bersama Emanuel Macron saat menghadiri G7 summit di Italia. indy100.com

    Baca: Kanada Balas Amerika Serikat dengan Tarif Impor Rp 178 T

    Macron juga menyinggung hegemoni Amerika Serikat terhadap pasar global dan menilai peran gabungan negara G7 tanpa AS lebih besar dibandingkan Amerika Serikat sendirian.

    "Enam negara G7 tanpa Amerika Serikat lebih bisar bersama-sama dibanding pasar Amerika Serikat sendirian. Tidak akan ada hegemoni dunia jika kita bisa mengorganisir diri kita sendiri," ujar Macron.

    Baca: Tindakan Balasan, Amerika Serikat Dihantam Tarif Baja Uni Eropa


    Pekan lalu, Donald Trump mengumumkan ia akan menghapus tarif impor AS kecuali tarif 25 persen untuk baja dan 10 persen untuk alumunium dari Kanada, Meksiko, dan Uni Eropa karena ancaman ketahanan nasional yang ditimbulkan oleh impor logam-logam ini. Meksiko dan Kanada membalas langkah AS. Kanada mengumumkan akan menargetkan baja AS, aluminium dan produk Amerika Serikat lainnya senilai US$ 12,8 miliar atau Rp 178 triliun yang akan berlaku pada 1 Juli.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Hadiah Juara Piala Dunia Terus Melonjak

    Sejak digelar pada 1982, hadiah uang tunai untuk tim pemenang Piala Dunia terus meningkat. Berikut jumlah duit yang diterima para jawara global ini.