Minggu, 21 Oktober 2018

Penyerangan Skripal, Jerman Belum Kantongi Bukti Rusia Terlibat

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sergei Skripal, 66 tahun, dan putrinya Yulia, 33 tahun, dalam kondisi kritis di rumah sakit saat ini.l [Rex Features]

    Sergei Skripal, 66 tahun, dan putrinya Yulia, 33 tahun, dalam kondisi kritis di rumah sakit saat ini.l [Rex Features]

    TEMPO.CO, Jakarta - Jerman tidak memiliki bukti dari otoritas Inggris yang bisa mendukung klaim London terkait tuduhan Moskow sebagai dalang yang meracun Sergei Skripal dan putrinya, Yulia. Skripal adalah mantan agen ganda mata-mata Rusia yang ditemukan sekarat di Inggris pada Maret 2018. 

    Kasus penyerangan terhadap Skripal, 66 tahun, telah berjalan lebih dari tiga bulan sejak upaya pembuktian dimulai. Namun Inggris sampai sekarang masih bersikap tertutup ketika ditanya bukti-bukti yang bisa menguatkan tuduhannya terhadap Rusia.

    Baca: 27 Negara Usir Diplomat Rusia Tapi 10 Negara Tidak, Ini Daftarnya

    Stasuin televisi RBB di Jerman mewartakan, pemerintah Jerman mengatakan kepada komite parlemen dalam sebuah sesi dengar tertutup bahwa Jerman masih belum menemukan satu bukti pun yang menguatkan dugaan Rusia kemungkinan dalang insiden tersebut. Jerman merupakan negara yang ikut mengusir diplomat Rusia dari negara itu  pasca-serangan gas syaraf Novichok kepada Skripal dan putrinya.

    “Hanya diketahui bahwa racun yang menyerang saraf itu dinamakan Novichok, yang pernah diproduksi di Rusia (pada era Uni Soviet),” kata Michael Goetschenberg, seorang ahli layanan keamanan sebagai koresponden dari ARD saat mengomentari hasil pertemuan tersebut. Michael melaporkan sejauh ini pihak berwenang di Inggris juga tidak memiliki data terbaru terkait keterlibatan Rusia.

    Baca: Sergei Skripal, Eks Mata-mata Rusia Keluar Rumah Sakit Inggris

    Sebelumnya, Skripal dan putrinya Yulia ditemukan sekarat di pusat perbelanjaan di Salibusry, selatan Inggris setelah terkena racun syaraf Novichok. Kasus serangan racun yang terjadi di wilayah kedaulatan Inggris ini, membuat Perdana Menteri Inggris Theresa May dan para pemimpin negara sekutu seperti Jerman, Prancis dan Amerika Serikat menuduh pemerintahan Presiden Vladimir Putin terlibat.

    Rusia membantah tudingan ini serta menyebut Inggris dan Amerika Serikat telah bersekutu memojokkan Rusia. Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, Inggris dan Amerika Serikat adalah negara yang diuntungkan dari insiden tersebut. Pemerintah Rusia juga menyayangkan pengacara dan diplomat Rusia tidak diizinkan menemui Skripal yang masih dalam perawatan rumah sakit.

    RT NEWS | INSAN QURANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.