Konglomerat Koch Bersaudara Lawan Trump Soal Tarif Impor

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Konglomerat David H. Koch dan Charles G. Koch dari Koch Industries melawan kebijakan tarif impor tinggi Presiden AS, Donald Trump. Rolling Stone

    Konglomerat David H. Koch dan Charles G. Koch dari Koch Industries melawan kebijakan tarif impor tinggi Presiden AS, Donald Trump. Rolling Stone

    TEMPO.CO, Washington – Konglomerat Amerika Serikat Koch bersaudara menggelar kampanye mendukung perdagangan global untuk melawan kebijakan proteksionisme Presiden Donald Trump.

    Charles G. Koch dan David H. Koch, yang merupakan pemilik Koch Industries, menggandeng tiga lembaga untuk mengkampanyekan perlunya perdagangan bebas dan menolak tarif impor tinggi.

    Baca: 

    Trump Kenakan Denda ZTE Rp 18,3 Triliun Gara-gara?

    Donald Trump Ingin Larang Mobil Mewah Jerman Masuk AS, Kenapa?

    Ketiga lembaga itu adalah Freedom Partners Chamber of Commerce, Americans for Prosperity dan LIBRE Initiative. Ketiganya mendapat dana dari konglomerat Koch dan ditugasi memasang berbagai iklan, melakukan lobi politik ke Kongres dan menggalang dukungan masyarakat.

    “Kampanye ini merupakan pernyataan jelas bahwa perdagangan merupakan prioritas utama dari jaringan kami. Kami akan bekerja secara agresif untuk mengedukasi para perumus kebijakan dan semua orang soal fakta ini,” kata James Davis, executive vice president Freedom partners, seperti dilansir ABC pada Senin, 4 Juni 2018.

    Baca: 

    Wapres Cina Ingin Pererat Hubungan dengan Rusia, Sindir Trump

    Presiden Meksiko dan Trump Saling Serang

    Koch bersaudara menjalankan Koch Industries, yang merupakan perusahaan swasta terbesar kedua di AS. Perusahaan ini terutama bergerak di bidang pengolahan minyak bumi dan gas. Pendapatan pertahun Koch Industries pada 2013 diperkirakan mencapai US$115 miliar atau Rp1,600 triliun.

    Davis melanjutkan,”Pengenaan tarif dan hambatan perdagangan membuat kita menjadi lebih miskin. Itu membuat harga-harga naik dan menyulitkan kalangan ekonomi bawah. Itu sebabnya isu ini menjadi sangat penting.”

    Koch bersaudara mengkritik kebijakan tarif impor Trump untuk komoditas baja dan aluminium sebesar masing-masing 25 persen dan 10 persen terhadap negara-negara Eropa, Kanada, Meksiko dan Cina.

    Trump melakukan ini untuk mengurangi defisit perdagangan tahunan yang mencapai total sekitar US$800 miliar atau sekitar Rp11,100 triliun dengan berbagai mitra bisnis seperti Uni Eropa, Cina, Kanada, Meksiko, Korea Selatan hingga Jepang.

    UE, Kanada dan Meksiko telah menyatakan akan membalas kenaikan tarif itu dengan menaikkan tarif impor berbagai produk dari AS. Sedangkan Cina melansir akan menambah impor dari AS sekitar US$70 miliar atau sekitar Rp970 triliun per tahun untuk mengurangi defisit perdagngan AS dengan Cina, yang mencapai sekitar US$375 miliar atau sekitar Rp5,200 triliun per tahun. Cina memberi syarat Trump tidak menaikkan tarif impor produk dari Cina.

    Media CNBC melansir, Koch bersaudara akan menggelontorkan uang jutaan dolar atau puluhan miliar rupiah per tahun hingga beberapa tahun ke depan untuk kegiatan kampanye anti-tarif Trump ini.

    Koch bersaudara, yang merupakan pendukung Partai Republik seperti halnya Trump, mengambil keputusan ini setelah Trump menaikkan tarif impor dari Uni Eropa pada pekan lalu.

    “Pemerintahan Trump telah mengambil sejumlah langkah positif untuk perekonomian AS. Tapi tarif impor memotong kemajuan ini dan merugikan potensi ekonomi yang ada,” kata Tim Phillips yang merupakan presiden Americans for Prosperity. “Ada cara-cara lebih baik untuk menegosiasikan perjanjian perdagangan daripada menghukum konsumer dan pengusaha AS dengan menerapkan biaya tinggi.”

    Menurut media CNBC, program kampanye multi-tahun yang digelar Koch bersaudara ini bisa berbenturan dengan rencana Trump untuk maju kembali sebagai Presiden AS pada 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?