Thailand Mau Kirim Durian ke Orbit?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Durian Musang King. Istimewa

    Durian Musang King. Istimewa

    TEMPO.CO, Bangkok - Thailand berencana mengirim buah durian ke orbit untuk menguji daya tahannya. "Kami ingin astronot menikmati makanan Thailand di masa depan. Kami ingin melihat perubahan fisik pada buah ini ketika kembali ke Bumi.

    "Mungkin itu akan menjadi lebih kecil atau rusak," kata juru bicara Badan Antariksa dan Geo-Informatika (GISTDA) Thailand, seperti dilansir Bangkok Post pada 1 Mei 2018.

    Baca: Warga Thailand Ultimatum Junta Mundur, Gelar Pemilu November

    Buah ini populer di seluruh wilayah Asia dan terkenal karena popularitasnya. Namun, sejumlah orang tidak menyukai aroma intens buah ini. Ini membuat membawa durian ke sejumlah tempat menjadi hal terlarang seperti kamar hotel, lift dan kabin pesawat.

    Reputasi bau buah ini menimbulkan pertanyaan apakah buah ini akan diterima untuk dibawa luar angkasa dalam sebuah pesawat antariksa. Media Straits Times melansir rencana ini dengan menyebutnya sebuah langkah kecil bagi Thailand namun sebuah lompatan jauh bagi buah terbau di Asia Tenggara ini. 

    Baca:  Pemilu Ditunda Lagi, Masyarakat Thailand Protes

    Ada tes yang dilakukan dalam persiapan oleh organisasi independen untuk mengirim buah ini ke luar negeri. Ini seperti durian akan dikeringkan dan ditutup dengan kantong vakum untuk mengurangi bau tersebar.

    Peluncuran tes ke luar angkasa dijadwalkan pada Juli 2018. Beberapa paket durian akan ditutup, ditempatkan dalam kotak dan dikirim ke luar angkasa selama lima menit. Beberapa jenis beras Thailand juga dikirim untuk tujuan yang sama. Sebelumnya, sayuran fermentasi kimchi telah mencapai luar angkasa saat dibawa astronot Korea Selatan pada 2008. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.