Muslim Assam Takut Diusir dari India, Insiden Rohingya Kedua?

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak Muslim India belajar membaca Al-Quran di sebuah madrasah selama bulan suci Ramadhan di New Delhi, India, 22 Mei 2018. Bulan suci umat Islam adalah periode doa yang intens, disiplin diri, puasa fajar-ke-senja dan pesta-pesta malam (AP Photo/Altaf Qadri)

    Anak-anak Muslim India belajar membaca Al-Quran di sebuah madrasah selama bulan suci Ramadhan di New Delhi, India, 22 Mei 2018. Bulan suci umat Islam adalah periode doa yang intens, disiplin diri, puasa fajar-ke-senja dan pesta-pesta malam (AP Photo/Altaf Qadri)

    TEMPO.CO, Jakarta - Bimala Begum tampak ketakutan ketika didekati petugas keamanan India. Dia salah satu dari sekitar tiga juta perempuan berkeluarga di negara bagian Assam, timur laut India, yang diminta membuktikan surat kewarganegaraannya.

    "Sejak saya menerima surat peringatan, saya telah dua kali pergi ke rumah tetangga dan bertanya, apa yang mereka lakukan. Saya benar-benar ketakutan," kata Begum, 37 tahun, sembari menunjukkan dua halaman surat peringatan dari pemerintah India berbahasa lokal, Assam.

    Baca: 33 Muslim di India Ditembak Mati Gerilyawan

    Puluhan muslim melakukan salat Jumat dalam bulan Ramadan di jalanan luar Masjid fi Ahmedabad, India, 9 Juni 2017. REUTERS/Amit Dave

    Baru-baru ini, lembaga Pendaftaran Nasional Warga Negara (NRC) di negara bagian Assam melakukan pendataan ulang penduduk. Pendataan ini sebagai bagian dari kampanye pemerintah mengidentifikasi imigran tak berdokumen dari negara tetangga, Bangladesh.

    Menurut dokumen otentik yang dimiliki pemerintah India, lebih dari tujuh juta orang, termasuk 2,9 juta perempuan menikah berada di negara bagian Assam. "Keberadaan mereka sedang diverifikasi oleh pihak berwenang. Selanjunya akan diputuskan, apakah mereka warga negara India atau imigran," tulis Al Jazeera.Puluhan muslim melakukan salat Jumat dalam bulan Ramadan di jalanan luar Masjid fi Ahmedabad, India, 9 Juni 2017. REUTERS/Amit Dave

    Aktivis kemanusiaan Rejaul Karim Sarkar yang menjabat sebegai Presiden Persatuan Mahasiswa Minoritas Seluruh Warga Assam (AAMSU) menuduh petugas menjadikan perempuan yang menggunakan sertifikat sementara sebagai subyek pelecehan.

    Baca: 400 Pemberontak India Menyerah

    Adapun para aktivis kemanusiaan lainnya menyampaikana ketakutannya terhadap nasib puluhan ribu orang lainnya yang tidak tercatat di dalamdaftar NRC. Mereka takut diperam di pusat-pusat penahanan dan dibuat menjadi orang-orang yang tidak memiliki kewarganegaraan India, seperti kaum Rohingya di Myanmar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.