Korea Utara Sebut Mike Pence Keras Kepala dan Bodoh

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Cina, Xi Jinping berbincang dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un dalam pertemuan di Dalian, Cina, 8 Mei 2018.  Kunjungan Kim Jong-un itu adalah bagian dari serangkaian langkah diplomatik, yang secara tajam menurunkan ketegangan di semenanjung Korea. KCNA/via REUTERS

    Presiden Cina, Xi Jinping berbincang dengan Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un dalam pertemuan di Dalian, Cina, 8 Mei 2018. Kunjungan Kim Jong-un itu adalah bagian dari serangkaian langkah diplomatik, yang secara tajam menurunkan ketegangan di semenanjung Korea. KCNA/via REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Tensi ketegangan meningkat antara Amerika Serikat dan Korea Utara. Pada Kamis, 24 Mei 2018, Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara, Choe Son Hui, menyebut wakil Presiden Amerika Serikat, Mike Pence, keras kepala dan bodoh. Choe pun mengancam akan menarik diri dari rencana pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada 12 Juni 2018 di Singapura.

    Gertakan dan ancaman itu disampaikan Choe untuk menanggapi wawancara Pence dengan Fox News belum lama ini. Dalam wawancara tersebut, Pence mengatakan Korea Utara akan berakhir seperti Libya jika tidak segera melakukan denuklirisasi. Pence juga menyebut adalah kesalahan bagi Korea Utara jika berfikir mereka bisa mempermainkan Trump.

    Baca: Trump: Cina Perketat Penjagaan Perbatasan Korea Utara, karena?

    Wakil Presiden AS Mike Pence tampak duduk di belakang adik Kim Jong Un, Kim Yo Jong dan Kim Yong Nam, pemimpin delegasi Korea Utara di Olimpiade Musim Dingin 2018 di Korea Selatan.

    Baca: Korea Utara Bebaskan Tiga Tahanan Amerika Serikat

    Dikutip dari situs time.com pada 24 Mei 2018, Choe juga mempertanyakan apakah pertemuan 12 Juni nanti pantas dilakukan jika berkaca pada posisi pemerintah Amerika Serikat saat ini.

    "Kami dalam posisi tidak meminta Amerika Serikat untuk berdialog dan tidak pula membujuk jika mereka tidak mau duduk bersama kami. Apakah Amerika Serikat akan bertemu dengan kami dalam sebuah ruang pertemuan atau menemui kami dalam penutupan nuklir, semua ini tergantung pada keputusan dan perilaku Amerika Serikat," kata Choe.

    Menurut Choe, membandingkan situasi Libya dan Korea Utara merupakan kekeliruan. Program nuklir Libya pada saat negosiasi, baru menginjak tahapan awal sedangkan Korea Utara sudah bertahun-tahun mengembangkan program senjata nuklirnya. Berdasarkan hal ini Choe juga menuduh Pence bodoh dalam berpolitik.

    Korea Utara dikenal dengan gaya retorika yang berapi-api, tetapi komentar terbaru ini sangat penting karena diucapkan langsung dari pejabat tinggi dan bertepatan dengan pelaksanaan pertemuan dengan Presiden Trump yang semakin dekat.

    TIME | TELEGRAPH | CNN | FIKRI ARIGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.