Arab Saudi Tahan 7 Aktivis Tolak Larangan Perempuan Mengemudi

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wanita Arab Saudi mencoba mobil saat mengunjungi showroom mobil pertama untuk wanita di Jeddah, Arab Saudi, 11 Januari 2018. Showroom ini juga menawarkan solusi pembiayaan bagi perempuan yang akan membeli mobil. REUTERS/Reem Baeshen

    Seorang wanita Arab Saudi mencoba mobil saat mengunjungi showroom mobil pertama untuk wanita di Jeddah, Arab Saudi, 11 Januari 2018. Showroom ini juga menawarkan solusi pembiayaan bagi perempuan yang akan membeli mobil. REUTERS/Reem Baeshen

    Jakarta - Sedikitnya tujuh aktivis pembela hak perempuan ditahan sebelum aturan mengenai larangan mengemudi mobil untuk perempuan Arab Saudi pada tanggal 24 Juni 2018 dicabut. Empat dari 7 aktivis yang ditahan itu di antaranya merupakan perempuan yang paling terkemuka dalam menyuarakan hak mengemudi untuk wanita.

    Baca: Wanita Arab Saudi Rayakan Pencabutan Larangan Mengemudi

    Keempat aktivis tersebut di antaranya adalah Loujain al-Hathlouldi yang telah berkampanye selama beberapa dekade dan menduduki peringkat ke 3 dalam daftar perempuan Arab paling kuat dalam pekerjaannya, Eman al-Nafjan, Aziza al-Yousef, dan Aisha al-Manea yang telah aktif berkampanye menolak larangan mengemudi bagi perempuan, seperti dikutip dari NPR, 20 Mei 2018.

    Dua orang pria juga ikut ditahan oleh pihak berwenang, mereka adalah Ibrahim al-Modeimigh, pengacara dan pembela hak-hak wanita, dan Mohammad al-Rabea, seorang aktivis pemuda dan wanita muda di Riyadh.

    Sejumlah wanita Arab Saudi mengunjungi showroom mobil pertama untuk wanita di Jeddah, Arab Saudi, 11 Januari 2018. Showroom mobil khusus perempuan akhirnya dibuka di Arab Saudi, setelah pencabutan larangan kaum perempuan untuk mengemudikan kendaraan. REUTERS/Reem Baeshen

    Baca: Perempuan Arab Saudi ke Negara Tetangga Kursus Mengemudi

    Tidak jelas mengapa para aktivis tersebut ditangkap. Kampanye kotor dilakukan oleh pemerintah melalui medianya yang mengatakan bahwa ketujuh aktivis tersebut ditangkap karena membentuk jaringan yang dapat mengancam keamanan Saudi.

    Banyak spekulasi bermunculan, salah satunya dilansir dari situs amnesty internasional, bahwa dalam perkembangan kasus tersebut, pihak berwenang Arab Saudi dan media pemerintah memberikan penjelasan kepada publik untuk mencoba mendiskreditkan tujuh pembela hak asasi wanita yang ditahan sebagai pengkhianat.

    Kehadiran aktivis menjadi ancaman bagi keamanan Arab Saudi karena memiliki hubungan dengan entitas asing dan memiliki tujuan merusak stabilitas negara dan tatanan sosial.

    Baca: Perempuan Arab Saudi ke Negara Tetangga Kursus Mengemudi

    Dilansir dari situs The Star, aktivis hak asasi berspekulasi bahwa semua yang ditahan merupakan orang yang berkecimpung dalam beberapa aktivitas mengenai isu-isu hak-hak perempuan, selain itu beberapa dari mereka merupakan wanita yang sangat vokal dan menonjol di negara tersebut.

    Samah Hadid, Direktur Kampanye timur Tengah Amnesti Internasional menyatakan, kampanye seperti ini sangat mengkhawatirkan bagi para pembela hak asasi manusia dan aktivis perempuan di Arab Saudi. “Taktik intimidasi terang-terangan seperti itu, sepenuhnya tidak dapat dibenarkan,” ujarnya seperti dikutip dari www.amnesty.org

    Ketika kerajaan Arab Saudi mengeluarkan dekrit kerajaan tahun lalu mengenai izin perempuan berkendaraan,  beberapa aktivis perempuan yang berkampanye mengenai hal tersebut dihubungi oleh istana kerajaan dan diperingatkan agar tidak berbicara kepada media ataupun beropini di media sosial. Dengan peringatan tersebut, beberapa perempuan meninggalkan negara itu untuk beberapa waktu dan yang lainnya berhenti menyuarakan pendapat mereka di Twitter.

     NPR | THE STAR |AMNESTY.ORG | CANDRIKA 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    KPU Menetapkan Jokowi Widodo - Ma'ruf Amin Pemenang Pilpres 2019

    Pada 21 Mei 2019, Komisi Pemilihan Umum menetapkan pasangan Joko Widodo - Ma'ruf Amin sebagai pemenang Pilpres 2019. Inilah komposisi perolehan suara.