Amerika Serikat Gunakan Serangan Siber untuk Cegat Rudal Musuh

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Personel angkatan udara AS memantau layar komputer 561st Network Operations Squadron (NOS) di pangkalan udara Petersen, Colorado Springs, Colorado, Amerika Serikat, 20 Juli 2015.[REUTERS/Rick Wilking]

    Personel angkatan udara AS memantau layar komputer 561st Network Operations Squadron (NOS) di pangkalan udara Petersen, Colorado Springs, Colorado, Amerika Serikat, 20 Juli 2015.[REUTERS/Rick Wilking]

    TEMPO.CO, Jakarta - Militer Amerika Serikat terus berupaya menciptakan teknologi pertahanan baru yang lebih efisien dan hemat, salah satunya menggunakan serangan siber. Perang siber akan menjadi konsep baru perang modern, oleh karena itu militer Amerika Serikat menciptakan teknologi siber untuk meretas rudal sebelum meninggalkan landasan peluncuran.

    Pentagon menilai sistem pertahanan serangan siber ini lebih efisien dibanding pencegat rudal konvensional, seperti dilansir dari Sputniknews, 23 mei 2018.

    Baca: Amerika Serikat Diam-diam Uji Coba Rudal Nuklir ICBM


    Laporan penggunaan serangan siber peretas rudal ini yang disampaikan kepada kongres tidak mengungkapkan nama-nama musuh potensial. Namun pengamat mengatakan Korea Utara dan Iran adalah target potensial peretas rudal ini.

    "Amerika Serikat memiliki hak untuk melakukan aksi pencegahan peluncuran terhadap rudal musuh yang mengancam Amerika Serikat, sekutu, mitra, dan kepentingan Amerika Serikat lain," tulis dokumen Pentagon.

    Strategi baru ini mewakili pendekatan yang lebih efektif secara anggaran dibandingkan dengan pengembangan rudal pencegat untuk menghancurkan rudal balistik dan mengurangi beban rudal pertahanan domestik.

     

    Media online defensenews.com menulis bahwa ada beberapa faktor yang menjadi penyebab gagalnya rudal SM-3 Blok IIA mencegat rudal target, selain masalah di rudal itu sendiri. Radar kontrol penembakan dan targeting atau sistem AEGIS Angkatan Laut juga dapat menjadi penyebab kegagalan itu. raytheon.com

    Mantan calon presiden dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, juga pernah meramalkan bahwa perang siber akan menjadi salah satu tantangan paling penting bagi presiden Amerika Serikat.

    "Saya pikir keamanan cyber, perang siber, akan menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi presiden berikutnya" kata Hillary Clinton saat debat pertama pemilihan presiden.

    Dia juga mengatakan bahwa Rusia sedang menguji reaksi Amerika Serikat terhadap serangan siber.

    "Saya pikir mereka telah memperlakukannya sebagai probing (pengujian) seberapa jauh kita bisa mengatasinya, atau berapa banyak yang mampu kita lakukan," kata Hillary.

    Baca: Militer Cina Kembangkan Sistem Senjata Laser, seperti Apa?

    Inovasi ini memungkinkan Pentagon untuk mempertimbangkan teknologi perang siber ke gudang persenjataan antibastistiknya. Jika diterapkan untuk sistem pertahanan, maka militer Amerika Serikat mampu meledakkan rudal musuh sebelum keluar dari tempat peluncuran.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.