Presiden Turki Dilarang Kampanye di Sarajevo Bosnia

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Turki Tayyip Erdogan (kedua dari kanan) berfoto bersama dengan Ilkay Gundogan (kiri), Mesut Ozil (kedua kiri), dan pemain Everton Cenk Tosun di London, Inggris, Minggu, 13 Mei 2018. Gundogan dan ozil adalah pemain Timnas Jerman berdarah Turki, sedangkan Tosun striker Timnas Turki. Reuters

    Presiden Turki Tayyip Erdogan (kedua dari kanan) berfoto bersama dengan Ilkay Gundogan (kiri), Mesut Ozil (kedua kiri), dan pemain Everton Cenk Tosun di London, Inggris, Minggu, 13 Mei 2018. Gundogan dan ozil adalah pemain Timnas Jerman berdarah Turki, sedangkan Tosun striker Timnas Turki. Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tak diperkenankan kampanye di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina, Ahad, 20 Mei 2018. Sebelumnya, tiga negara Eropa melarang politikus Turki kampanye di daratan mereka.

    Laporan Al Jazeera meyebutkan, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pimpinan Erdogan memutuskan menggelar kampanye di ibu kota Bosnia setelah Austria, Belanda dan Jerman menolak kehadiran politikus AKP berkampanye di negara mereka. Namun kehadiran Erdogan ditolak.

    Baca: Khawatir Rusuh, Belanda Larang Masuk Menteri Luar Negeri Turki

    Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier (kiri) dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kanan). [https://aa.com.tr]

    "Sebagian besar warga Turki di Eropa tinggal di Austria, Belanda dan Jerman," tulis Al Jazeera.

    Kampanye Erdogan di Sarajevo itu terkait dengan pemilihan umum parlemen dan presiden Turki yang akan digelar pada Juni 2018.Umat Muslim Bosnian berdoa saat ikuti salat Idul Adha bersama di sebuah sport center di Sarajevo, Bosnia, 1 September 2017. AP Photo

    Sekitar enam juta warga Turki tinggal di berbagai negara, sebagian besar di Eropa Barat. Suara mereka sangat berharga bagi calon anggota parlemen maupun presiden. Sejak 2014, separuh dari mereka memiliki hak memilih. "Warga Turki di Jerman mencapai 1,5 juta. Mereka memiliki hak suara."

    Baca: Referendum Kontitusi Turki, Koyak Hubungan Dengan Eropa

    Menurut RadioFreeEurope, Ketegangan antara Uni Eropa dan Turki muncul tahun lalu setelah sejumlah negara Eropa menolak pejabat pemerintah Turki menggelar kampanye menjelang referendum. Hasil referendum selanjutnya memenangkan Erdogan sebagai presiden.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.