Aljazair Sempat Mediasi Krisis Nuklir Korea Utara-Korea Selatan

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika saat upacara pelantikan di Aljir 28 April 2014.[REUTERS/Ramzi Boudina]

    Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika saat upacara pelantikan di Aljir 28 April 2014.[REUTERS/Ramzi Boudina]

    TEMPO.CO, JakartaAljazair telah menjadi tuan rumah pertemuan tertutup delegasi dari Korea Utara dan Korea Selatan untuk mediasi krisis Nuklir pada 9 Mei lalu.

    Duta besar Korea Selatan untuk Aljazair, Park Sang Jin, mengundang rekannya Duta Besar Korea Utara, Choi Hyuk Chul, ke rumahnya di Aljir pada 1 Mei. Tidak ada informasi tentang pertemuan yang diumumkan ke publik, seperti dilansir Middle East Eye, Kamis 17 Mei 2018.

    Sebelumnya Aljazair memang menawarkan menjadi mediator pada September lalu, ketika ketegangan antara pemimpin Korea Utara Kim Yong-un dan Presiden AS Donald Trump memicu kekhawatiran konflik militer atas program nuklir dan rudal balistik Korea Utara.

    Dua Korea mengalami periode relatif tenang sejak awal tahun. Pada bulan April, Kim Jong-un menjadi pemimpin pertama negara yang pergi ke Korea Selatan sejak Perang Korea pada tahun 1953.

    Citra Satelit Situs Uji Coba Nuklir Korea Utara

    Korea Utara juga mengambil langkah diplomatik, termasuk menyamakan zona waktu Pyongyang dengan zona waktu Korea Selatan dan mengajukan proposal ke Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) untuk membuka koridor penerbangan ke Korea Selatan.

    Baca: Jadi Tempat Pertemuan AS dan Korea Utara, Singapura Bakal Netral

     

    Hubungan Aljazair dengan dua Korea

    Hubungan semenanjung Korea dan dunia Arab berawal pada Gerakan Non-Blok pada tahun 1961.

    Kairo dan Aljir adalah dua ibukota Arab untuk menjadi tuan rumah perwakilan diplomatik kedua Korea.

    Selama tahun 1990-an, ketika Aljazair terkena blokade senjata akibat dari perang sipil, Pyongyang melatih ratusan tentara dalam teknik tempur tingkat tinggi dan menyediakan senjata untuk perang melawan kelompok-kelompok bersenjata.

    Aljazair pun menolak memutuskan hubungan dengan Korea Utara, meskipun secara diam-diam telah menerapkan sanksi ekonomi dan menetapkan moratorium visa profesional yang diberikan kepada para pekerja Korea Utara, yang mayoritas bekerja dalam sektor peminyakan dan konstruksi.

    Baca: AS-Korsel Latihan Tempur, Korea Utara Ancam Batalkan KTT


    Kerjasama kedua Korea memberi Aljazair peluang memanfaatkan dirinya sebagai pusat investasi Korea Selatan di kawasan MENA (Middle East and Nort Africa) dan akan membuka pasar ekspor dan investasi di Korea Utara.

    Setelah sanksi dicabut, Korea Utara dapat melanjutkan ekspor senjata konvensionalnya dan berpotensi bermitra dengan industri senjata Korea Selatan.

    Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un (kiri), dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mengangkat tangan mereka setelah menandatangani pernyataan bersama di desa perbatasan Panmunjom di Zona Demiliterisasi, Korea Selatan, 27 April 2018. AP

    Selama dua dekade Korea Selatan berupaya memperkuat hubungan diplomatik dengan dunia Arab. Sejak akhir tahun 1970-an, perdagangan telah meningkat dengan pembentukan chaebol (konglomerat ekonomi Korea Selatan) di kawasan Arab.

    Hubungan antara Seoul dan Aljazair baru dimulai pada Januari 1990, yang tentu saja menguntungkan Aljazair, meskipun kemudian terperosok dalam krisis ekonomi dan politik. Perusahaan Korea Selatan adalah yang pertama berinvestasi dalam distribusi mobil dan elektronik dan untuk membuat kontrak dengan perusahaan Aljazair.

    Hubungan ekonomi sempat rusak oleh pembunuhan manajer umum kelompok Daewoo di Aljazair pada Oktober 1994. Hingga kini belum diketahui dalang pembunuhan namun diduga dilakukan kelompok bersenjata.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.