Rabu, 23 Mei 2018

Ilmuwan Usia 104 Tahun yang Rindu Kematian Akhirnya Berpulang

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Akademisi Australia Menyesal Umur Pajang dan Ingin Dibunuh di Swiss

    Akademisi Australia Menyesal Umur Pajang dan Ingin Dibunuh di Swiss

    TEMPO.CO, Jakarta - David Goodall, laki-laki berusia 104 tahun, terkonfirmasi meninggal pada Kamis, 10 Mei 2018 pukul 12.30 siang waktu Swiss. Goodall membuat geger publik dunia karena merindukan kematian yang tak kunjung datang hingga dia pun mengajukan permohonan ke pengadilan hak untuk mengakhiri hidupnya.

    Goodall adalah ilmuan bidang biologi, warga negara Australia. Situs english.alarabiya.net pada Sabtu, 11 Mei 2018 mewartakan sebuah kelompok advokasi yang membantu Goodall menangani kasusnya, Exit International, mengatakan Goodall telah menjalankan keinginannya. Dia menghembuskan nafas terakhir di kota Liestal, sebuah wilayah dipinggir kota Basel, Swiss, dengan memasukkan cairan mematikan lewat infus. Goodall bertolak ke Swiss agar bisa mendapatkan bantuan dari negara itu untuk memenuhi keinginannya.

    "Kualitas hidup saya semakin berkurang dalam beberapa tahun dan saya sangat bahagia mengakhirinya," kata Goodall, Kamis, 10 Mei 2018, di sebuah ruang kamar tempat dia akhirnya meninggal dunia.

    Baca: Ilmuwan Ini Ingin Akhiri Hidupnya dengan Cara Suntik Mati

    David Goodall. dailymail.co.uk

    Baca: Menyesal Berumur Panjang, Akademisi Australia Ikut Euthanasia

    Goodall ilmuan yang lahir di Inggris itu, dalam beberapa pekan terakhir telah menghebohkan dunia dengan gagasan untuk mengakhiri hidupnya. Pemikiran ini telah menghantui pikirannya selama 20 tahun. Dia mengatakan mobilitasnya sudah berkurang seiring usainya yang semakin senja. Akan tetapi, keinginannya itu ditentang para dokter dan hukum Australia tak membolehkannya. Walhasil, dia pergi ke Swiss, dimana dinegara itu 'membantu' seseorang mengakhiri hidupnya adalah hal yang legal asalkan hal itu dilakukan berdasarkan keinginan sendiri atau tanpa paksaan. Namun pada praktiknya hal itu harus dikarenakan seseorang tersebut sudah dalam stadium akhir mengalami suatu penyakit.

    "Pada usia saya dan bahkan kurang dari usia saya, seseorang ingin diberikan kebebasan untuk memilih meninggal dunia dan kapan waktu yang pas baginya untuk meninggal dunia," kata Goodall.

    Ratusan orang setiap tahun bepergian ke Swiss untuk mengakhiri hidup mereka. Philip Nitschke, Direktur Exit International, mengatakan sebelum benar-benar mengakhiri hidupnya, Goodall harus menjawab beberapa pertanyaan, jadi dia tahu siapa dirinya dan apa yang hendak dia lakukan.
    Goodall meregang nyawa dengan diiringan lantunan musik Ninth Symphony karya Beethoven. Kata terakhir yang diucapkannya adalah 'ini (kematian) mengambil waktu yang sangat lama'. Dalam wasiatnya, Goodall mendonasikan jasadnya digunakan untuk kepentingan medis dan abu jasadnya di sebar di area sekitar tempatnya meninggal dunia. Dia pun meminta agar tidak ada upacara kematian atau seremoni untuk mengenangnya. Hingga kematiannya, Goodall tidak menganut kepercayaan apapun.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Ganjil Genap Diperluas, Uji Coba Dilakukan Juli 2018

    Perluasan aturan ganjil genap di Jakarta akan dimulai Juli 2018. Ini berlaku selama pelaksanaan Asian Games dan mungkin akan dipertahankan.