Abaikan Kebijakan Satu Cina, Maskapai Asing Bakal Kena Sanksi?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Keluarga Airbus A350 XWB terdiri dari tiga versi (A350-800, -900 dan -1.000) dan masing-masing dengan memeliki penerbangan yang memberikan jangkauan global. Pesawat A350-800 akan menampung 276 penumpang, sedangkan A350-900 dan A350-1000 dengan 315 dan 369 penumpang. dailymail.co.uk/airbus.com

    Keluarga Airbus A350 XWB terdiri dari tiga versi (A350-800, -900 dan -1.000) dan masing-masing dengan memeliki penerbangan yang memberikan jangkauan global. Pesawat A350-800 akan menampung 276 penumpang, sedangkan A350-900 dan A350-1000 dengan 315 dan 369 penumpang. dailymail.co.uk/airbus.com

    TEMPO.CO, Beijing - Maskapai penerbangan asing berisiko kehilangan izin beroperasi di Cina daratan jika tidak mendukung kebijakan Satu Cina.

    Administrasi Penerbangan Sipil Cina, CAAC, mengeluarkan perintah terhadap 36 operator penerbangan asing untuk berhenti mendaftarkan Taiwan, Hong Kong dan Macau secara terpisah di situs web masing-masing pada April 2018. Maskapai penerbangan wajib menandainya sebagai bagian dari Cina.

    Baca: Cina Ancam Trump Jika Abaikan Kebijakan 'Satu Cina'

     

    Surat CAAC tertanggal 25 April 2018 memberikan waktu 30 hari bagi maskapai asing untuk menanggapi. Surat itu juga memperingatkan ketidakpatuhan akan dianggap "perilaku pendiskreditan serius" di bawah Standar untuk Kredit Industri Penerbangan Sipil yang dikeluarkan November 2017.

    Bersama surat itu, diberikan berbagai hukuman yang akan diterapkan, termasuk pengawasan administrasi lebih dekat dan kerugian pada catatan kredit mereka.

    Baca: Hun Sen: Kamboja Berkomitmen Pada Kebijakan Satu Cina

     

    "Mereka yang dianggap terlibat dalam perilaku terdiskredit yang serius mungkin akan mengalami sumber daya atau izin administratif yang dibatasi atau bahkan akan dicabut atau menghadapi masalah saat mengajukan lamaran sumber daya baru atau perpanjang izin administratif," demikian bunyi peringatan CAAC seperti dilansir media SCMP, Selasa, 8 Mei 2018.

    Maskapai United Airlines dari Amerika Serikat, yang masih mencantumkan Taiwan secara terpisah di situs webnya, telah bersurat itu ke Gedung Putih untuk meminta saran.

    Banyak perusahaan internasional lainnya juga gagal mematuhi peringatan itu. Misalnya, Japan Airlines, yang masih menawarkan opsi area di bawah judul "Cina / Hong Kong / Taiwan".

    Di sisi lain, perusahaan Korea Asiana Airlines telah mengubah situs webnya dengan menawarkan tujuan di Taiwan di bawah judul "Cina daratan, Hong Kong, Makau, dan Taiwan".

    Juru bicara kementerian luar negeri Cina, Geng Shuang, pada Minggu, 6 Mei 2018 mengatakan perusahaan asing yang beroperasi di Cina harus menghormati sentimen nasionalisme rakyat Cina.

    "Maskapai penerbangan yang gagal menghormati kebijakan satu-Cina akan dihukum," katanya, seperti dilansir South China Morning Post pada 8 Mei 2018.

    CAAC mulai mengawasi maskapai penerbangan asing setelah pada Januari, Delta Air Lines dikritik oleh pelanggan Cina karena membuat daftar Tibet dan Taiwan sebagai negara terpisah.

    Delta meminta maaf atas "kesalahan yang tidak disengaja" dan mengatakan tidak ada niat politik di balik daftar itu. Sejak itu, Tibet dihapus dari situs webnya, tetapi Taiwan masih terdaftar secara terpisah dari Cina daratan.

    Maskapai penerbangan Qantas dari Australia juga mendapat peringatan dari CAAC soal kebijakan satu Cina ini. Seperti dilansir SMH, juru bicara Qantas mengatakan,"Kami akan segera menanggapinya secara proporsional."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.