Penunjuk Jalan ke Kedubes Amerika Serikat Muncul di Yerusalem

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja memasang penunjuk jalan yang mengarahkan ke Kedutaan Besar Amerika Serikat, di kawasan Konsulat AS di Yerusalem, 7 Mei 2018. [Reuters]

    Seorang pekerja memasang penunjuk jalan yang mengarahkan ke Kedutaan Besar Amerika Serikat, di kawasan Konsulat AS di Yerusalem, 7 Mei 2018. [Reuters]

    TEMPO.CO, Jakarta - Penunjuk jalan yang bertuliskan arah ke Kedutaan besar Amerika Serikat mulai dipasang di Kota Yerusalem, Senin 7 Mei 2018.

    Penunjuk jalan ini bertuliskan tiga bahasa, yakni Inggris, Ibrani, dan Arab, seperti yang dikutip dari Aljazeera, 7 Mei 2018. Pekerja mulai memasang tanda jalan ini di selatan Yerusalem di kawasan Konsulat Amerika Serikat, yang akan menjadi lokasi Kedutaan Besar Amerika Serikat setelah direlokasi dari Tel Aviv, Israel, pada 14 Mei mendatang.

    "Ini bukan mimpi. Ini adalah kenyataan dan saya bangga berkeliling melihat penunjuk jalan pertama untuk persiapan Kedubes Amerika Serikat," kicau Wali kota Yerusalem, Nir Barkat, di Twitter.

    Baca: Jepang Tidak Ikuti Amerika Serikat Pindahkan Kedubes ke Yerusalem

    Seorang pekerja memasang penunjuk jalan yang mengarahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat, di sekitar kawasan Konsulat AS di Yerusalem, 7 Mei 2018. [Reuters]

    Baca: Pindahkan Kedutaan ke Yerusalem, Presiden Rumania Minta PM Mundur

    Relokasi Kedutaan Besar Amerika Serikat adalah perwujudan janji Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, setelah mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Pengakuan Trump memancing protes di seluruh dunia, terutama Palestina, dan negara-negara muslim.

    Israel merebut Yerusalem Timur dari Yordania pada perang 1967. Hasil perang memutuskan pembagian garis batas di Yerusalem.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.