Wartawan Myanmar Frustrasi Tak Ada Kebebasan Pers

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi Myanmar menahan dua jurnalis Reuters, Wa Lone, 32 tahun, (mengacungkan dua jempol) dan Kyaw Soe Oo, 28 tahun, karena meliput peristiwa pembantaian warga etnis Rohingya oleh militer Myanmar. Reuters

    Polisi Myanmar menahan dua jurnalis Reuters, Wa Lone, 32 tahun, (mengacungkan dua jempol) dan Kyaw Soe Oo, 28 tahun, karena meliput peristiwa pembantaian warga etnis Rohingya oleh militer Myanmar. Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Wartawan Myanmar menyebut pemerintah negara itu telah gagal mempertahankan kebebasan pers meskipun telah terjadi pemerintahan transisi dari militer ke pemerintahan terpilih. Kesimpulan itu diperoleh dari sebuah jajak pendapat yang dipublikasikan World Press Freedom pada Kamis, 3 Mei 2018. 

    Jajak pendapat dilakukan oleh para aktivis yang tergabung dalam kebebasan berekspresi Myanmar dan lembaga-lembaga mitranya dengan mewawancarai sekitar 200 wartawan Myanmar. Jajak pendapat yang dilakukan pada periode Januari-April 2018 tersebut menemukan kebebasan pers saat ini semakin terkekang dibanding tahun lalu.    

    “Wartawan telah frustrasi oleh kegagalan pemerintahan menerapkan komitmen manifesto pemilu untuk menaikkan kebebasan pers,” demikian bunyi jajak pendapat World Press Freedom, seperti dikutip dari Reuters.com, Jumat, 4 Mei 2018.

    Baca: Ungkap di Balik Penangkapan 2 Jurnalis, Polisi Myanmar Dipenjara

    Ilustrasi wartawan. Shutterstock

    Baca: Hakim Myanmar Tolak Bebaskan 2 Jurnalis Reuters Soal Rohingya 

    Ketika ditanya tingkat kesuksesan pemerintah mempertahankan kebebasan pers, sebanyak 79 wartawan menjawab pertanyaan itu dengan kata rendah atau sangat rendah. Juru bicara pemerintah Myanmar, Zaw Htay, yang dihubungi Reuters, menolak memberikan komentar atas hasil jajak pendapat tersebut.   

    Kebebasan pers di Myanmar menjadi sorotan setelah dua wartawan Reuters pada 12 Desember 2017 ditahan kepolisian Myanmar dan divonis 14 tahun penjara dengan tuduhan telah melanggar peraturan. 

    Militer Myanmar berkuasa di negara itu hampir 50 tahun lamanya. Namun, pada awal 2016, pemerintahan telah berpindah tangan ke peraih Nobel bidang perdamaian pada 1991, Aung San Suu Kyi. Meski begitu, militer tetap menguasai posisi strategis di kementerian, seperti kementerian dalam negeri dan pertahanan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?