Chassis Terlipat, Pesawat Tempur Ini Mendarat Darurat di Rusia

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Il-38 India. Wikipedia.org

    Pesawat Il-38 India. Wikipedia.org

    TEMPO.CO, JakartaPesawat tempur II-38 yang dioperasikan oleh angkatan bersenjata India berhasil melakukan pendaratan darurat di landasan udara Zhukovsky, di luar kota Moskow, Rusia. Pendaratan darurat dilakukan setelah pesawat itu mengalami sebuah kegagalan chassis atau rangka. 

    Baca: Kemenhan Sebut Ada Keterlambatan Pembuatan Pesawat Tempur KFX/IFX

    Pengunjung melihat pesawat jet tempur Mikoyan MiG-29 yang dipamerkan di MAKS International Aviation and Space Salon di Zhukovsky, Rusia, 25 Agustus 2015. REUTERS/Maxim Shemetov

    “Pesawat militer II-38 telah mendarat dengan sukses dengan bagian chassis depan terlipat. Tim pemadam kebakaran disiagakan dan tidak terlihat adanya percikan api,” demikian keterangan Ilyushin company seperti dikutip dari situs RT.com pada Minggu, 29 April 2018.     

    Baca: Kisah Pilot Jet Tempur Berkejaran dengan UFO di Langit Amerika 

    Tidak ada korban luka dalam insiden itu. Menjelang pendaratan darurat, pesawat berputar-putar di sekitar landasan lapangan terbang untuk membakar dan membuang kelebihan bakar bakar. 

    Total ada tujuh penumpang di dalam pesawat tersebut, yakni empat pilot dan tiga teknisi khusus. Pesawat temur II-38 dikemudikan oleh oleh pilot uji berpengalaman dari Ilyushin company. Awak pesawat II-38 rencananya akan diberikan tanda jasa dan insiden ini akan diselidiki.       

    Pesawat tempur Il-38 mendarat di landasan bandar udara internasional Zhukovsky, bersama dengan beberapa pesawat komersial. Pesawat II-38 adalah sebuah pesawat militer yang dirancang untuk melacak kapal selam dan melakukan observasi maritim. Angkatan udara India tercatat mengoperasikan lima mesin II-38SD yang merupakan buatan Rusia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.