Perang Dagang Amerika dan Cina, Kedelai Kena Jegal

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ini peta daerah penghasil komoditas kacang kedelai di Amerika Serikat. USDA

    Ini peta daerah penghasil komoditas kacang kedelai di Amerika Serikat. USDA

    TEMPO.CO, Washington Perang dagang yang memicu kenaikan tarif impor antara Amerika Serikat dan Cina merembet hingga ke wilayah pedalaman pertanian. Para petani AS merasa khawatir jika Cina benar-benar menerapkan tarif 25 persen untuk kacang kedele dan produk utama lainnya seperti yang telah diumumkan baru-baru ini.

    “Kami punya tagihan-tagihan yang harus dibayar dan utang yang harus dilunasi. Kami tidak bisa kehilangan pasar apalagi yang penting seperti Cina,” kata Zippy Duvall, seorang petani di negara bagian Georgia, AS, yang juga menjabat Presiden Federasi Biro Pertanian AS, dalam pernyataan pada awal April 2018 seperti dilansir CNBC.

    Baca: Perang Dagang, Media Cina Yakin Bakal Menang Lawan Amerika

    Secara total, produk pertanian AS meraup sekitar US$20 miliar atau sekitar Rp278 triliun dari penjualan ke Cina. Produk ini berupa kedelai, jagung, gandum, sorgum, daging babi dan daging sapi.

    Ilustrasi kacang kedelai. Sustainablepulse

    Cina memborong hingga sekitar setengah dari total ekspor tahunan kacang kedelai atau sekitar US$14 billion atau sekitar Rp195 triliun dari petani AS.

    Baca: Perang Dagang, Trump Mengecam Tarif Impor Cina

    Pemerintah Cina, seperti dilansir Reuters, telah mengumumkan rencana menaikkan tarif hingga 25 persen untuk 106 jenis produk pertanian AS. Ini sebagai balasan atas pengumuman kenaikan tarif impor 1300 jenis barang elektronik Cina oleh Presiden Donald Trump.

    “AS belum pernah surplus perdagangan dengan Cina dalam 40 tahun. Mereka harus mengakhiri praktek perdagangan tidak adil, menghilangkan hambatan,” kata Trump dalam cuitannya pada awal April. Trump juga mengeluhkan besarnya surpus perdangan Cina atas AS yaitu US$375 miliar per tahun atau sekitar Rp5,200 triliun.

    Menanggapi ini, Profesor Art Barnaby, yang mengajar ekonomi di Kansas State University, mengatakan,”Perang dagang tidak bagus bagi kita. Ada banyak ketidak-pastian arahnya ke mana?

    Jika harga impor kedelai dari AS melonjak, maka ini justru menguntungkan para petani Brasil, yang mengekspor 50 juta ton kedelai ke Cina pada 2017. Sebagai pembanding, AS ‘hanya’ mengekspor 33 juta ton ke Cina. Kenaikan tarif impor kedelai dari AS itu bakal membuat importir Cina beralih ke Brasil, yang harga kedelainya menjadi lebih murah.

    Uniknya, Cina sengaja menyasar negara bagian penghasil produk pertanian AS sebagai balasan atas kenaikan tarif impor AS untuk produk baja dan alumunium, yang bisa mengenai produk impor sejenis asal Cina. Negara bagian ini seperti Iowa, Illinois, Minnesota, Nebraska, Indiana, Missouri, Ohio dan Dakota.

    “Di negara bagian penghasil produk pertanian AS ini, Trump memperoleh dukungan suara kuat pada pemilihan Presiden 2016,” begitu dilansir CNBC.

    Pada 2018 ini, tingkat penghasilan petani AS diperkirakan yang terendah sejak 2006 berdasarkan data dari Kementerian Pertanian AS. Jika Cina mengalihkan pembelian produk pertanian ke Uni Eropa atau Amerika Latin seperti Brasil maka penghasilan petani AS bakal semakin turun.

    “Di komunitas pertanian, imbas dari ini akan menyebar ke bisnis lain di luar pertanian. Semua akan terdampak dari perusahaan pertanian lokal hingga kantor pengacara di sana,” kata Dan Kowalski, vice Presiden di CoBank, sebuah perusahaan besar penyedia pinjaman pertanian.

    Menanggapi ini, Kementerian Pertanian AS mengatakan pemerintah akan mencari jalan untuk meminimalkan dampak konflik perdagangan AS dan Cina terhadap para petani. “Ada banyak opsi berbeda yang bisa dijajaki,” kata Bill Northey, menteri muda Urusan Pertanian AS.

    Soal dampak perang dagang Cina dan AS ini terhadap Indonesia, pengamat ekonomi Tony Prasetiantono dari Universitas Gadjah Mada, mengatakan perang dagang ini dua ekonomi terbesar dunia ini akan berdampak pada impor produk baja.

    “Tapi saya ragu apakah ini akan menular ke negara-negara lain. Saya masih berharap agar perang tarif hanya terjadi antar kedua negara, tidak otomatis menular ke negara2 lain,” kata Tony. Dia meyakini mayoritas negara dunia masih mendukung proses liberalisasi perdagangan dan bukan proteksionisme. Belakangan, AS dan Cina bakal bertemu untuk mencari solusi soal tarif ekspor – impor kedua negara dan menghindari perang dagang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.