Jenazah Ilmuwan Palestina Diberangkatkan ke Gaza Hari Ini

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fadi al-Batsh. facebook.com

    Fadi al-Batsh. facebook.com

    TEMPO.CO, Kuala Lumpur – Kedutaan Palestina di Kuala Lumpur, Malaysia, bakal memberangkatkan jenazah ilmuwan Fadi AL Batsh, yang tewas setelah ditembak dua pengendara motor pada akhir pekan lalu, ke Gaza.

    Duta Besar Palestina, Dr Anwar Al Agha, mengatakan jenazah akan diberangkatkan pada Rabu, 25 April 2018 sekitar pukul 7.30 sore menggunakan pesawat terbang menuju ibu kota Mesir, Kairo.

    Baca: Polisi Malaysia Temukan Sepeda Motor Pembunuh Ilmuwan Palestina

    Dari sini, rombongan pengantar melanjutkan perjalanan ke Gaza lewat jalur darat. “Kami sudah mendapat izin (dari Mesir). Jenazah akan tiba di Gaza pada Kamis,” kata Anwar kepada Channel News Asia, Selasa, 24 April 2018.

    Seperti dilansir Reuters, Al Batsh tewas ditembak dua pengendara motor saat hendak berangkat salat subuh di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Sabtu, 21 April 2018.

    Baca: Israel Bantah Mossad Membunuh Ulama Palestina di Malaysia

    Pelaku menembakkan sekitar sepuluh peluru dan sebagian mengenai tubuh serta kepala korban.

    Hamas dan keluarga Al Batsh menuding lembaga intelijen Israel, Mossad, berada di balik pembunuhan terencana ini.

    Sebaliknya, Israel menuding konflik internal Palestina sebagai penyebab tewasnya Al Batsh.

    Pemerintah Israel sebelumnya juga menolak jenazah Al Batsh untuk dibawa pulang ke Gaza untuk dikebumikan. Israel telah mengirim permintaan kepada pemerintah Mesir untuk melarang rombongan pengantar jenazah melewati perbatasan Raffah, yang berbatasan langsung dengan Gaza.

    Tiga hari pasca peristiwa penembakan, polisi Malaysia menemukan sepeda motor pelaku penembakan ilmuwan Palestina, yang ditinggalkan di kawasan Danau Kota, Setapak, Kuala Lumpur. Polisi masih mencari kedua pelaku dan menelusuri motifnya. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.