Mantan PM Inggris Tak Sesalkan Referendum Brexit

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Pendana Menteri Ingggris David Cameron bersama  istrinya, Samantha melambaikan tangan kepada wartawan saat meninggalkan tempat tinggal dan kantornya di Downing Street 10, Inggris. REUTERS/Stefan Wermuth

    Mantan Pendana Menteri Ingggris David Cameron bersama istrinya, Samantha melambaikan tangan kepada wartawan saat meninggalkan tempat tinggal dan kantornya di Downing Street 10, Inggris. REUTERS/Stefan Wermuth

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan perdana menteri Inggris, David Cameron, tidak menyesal telah menyorongkan proposal Brexit. Saat masih memerintah, dia menyerukan agar dilakukan referendum untuk menentukan keanggotaan Inggris di Uni Eropa atau UE. 

    “Saya sudah berjanji kepada masyarakat Inggris dan saya memenuhi janji saya tersebut,” kata Cameron, seperti dikutip dari CNN.com pada Kamis, 19 April 2018.

    Baca: Apa Kabar David Cameron? Ini Aktivitas Barunya

    Ekspresi PM Inggris, David Cameron saat memberikan konferensi pers di luar Downing Street 10, London, 24 Juni 2016. Cameron mengatakan bahwa hasil referendum ini merupakan kehendak rakyat yang harus dilaksanakan. REUTERS/Phil Noble 

    Baca: PM Inggris David Cameron Dilanda Skandal #Piggate #Hameron

    Cameron yang mengundurkan diri pada 2016, telah menyerukan diselenggarakannya referendum Brexit atau singkatan dari British Exit. Keputusannya itu, telah berdampak pada turunnya dukungan politik pada Cameron hingga tampuk kekuasaan Inggris diteruskan oleh Theresa May, yang sekarang menjadi Perdana Menteri Inggris.         

    Cameron, yang dulu berkampnye agar Inggris bertahan di Uni Eropa, sangat yakin hasil suara referendum adalah adalah sebuah kesalahan. Namun demikian, Cameron akhirnya mengakui setelah lebih dari dua dekade keanggotaan Inggris di Uni Eropa, pelaksanaan referendum adalah hal yang tepat.     

    “Saya rasa Anda tidak bisa berada di bawah organisasi dan melihat kekuatan negara-negara anggota tumbuh. Pakta demi pakta serta kekuasaan demi kekuasaan berpindah dari Westminster ke Brussels. Mereka tidak pernah bertanya kepada rakyat apakah mereka bahagia dipimpin dengan pemerintahan seperti itu,” kata Cameron. 

    Proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa tak semudah membalik telapak tangan. Rangkaian proses negosiasi berjalan alot, namun batas waktu proses tidak diperpanjang dan harus dituntaskan kurang dari satu tahun sebelum Inggris benar-benar angkat kaki dari Uni Eropa.  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wiranto Ditusuk Seseorang yang Diduga Terpapar Radikalisme ISIS

    Menkopolhukam, Wiranto ditusuk oleh orang tak dikenal yang diduga terpapar paham radikalisme ISIS. Bagaimana latar belakang pelakunya?