Raja Swedia Ubah Aturan Lembaga Nobel pasca-Kisruh Internal

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Raja Carl XVI Gustaf dan Ratu Silvia saat menghadiri acara di Gedung Old Stock Exchange di Stockholm, Swedia, 20 Desember 2017. TT News Agency/Jonas Ekstromer via Reuters

    Raja Carl XVI Gustaf dan Ratu Silvia saat menghadiri acara di Gedung Old Stock Exchange di Stockholm, Swedia, 20 Desember 2017. TT News Agency/Jonas Ekstromer via Reuters

    TEMPO.CO, Stockholm - Raja Swedia Carl XVI Gustaf bakal mengubah aturan dasar dari Akademi Swedia, yang bertugas memilih pemenang Penghargaan Nobel di bidang sastra.

    Ini dilakukan untuk memungkinkan masuknya anggota  baru ke dalam akademi itu menyusul kontroversi pengunduran diri sejumlah anggota baru-baru ini.

    Kasus pengunduran diri ini merupakan bentuk protes penanganan dugaan pelecehan seksual, yang melibatkan seorang tokoh seni di negara itu, dan masih suami dari seorang anggota Akademi Swedia.

    Baca: Skandal Nobel: 3 Anggota Tetap Mundur terkait Pelecehan Seksual

    “Saya ingin mengamandemen statuta Akademi Swedia sehingga jelas bahwa seseorang bisa meninggalkan keanggotaan di akademi atas permintaannya sendiri,” kata Raja Carl XVI Gustaf dalam pernyataan Rabu, 18 April 2018 waktu setempat.

    Seperti ramai diberitakan, 5 dari 18 anggota Akademi Swedia, termasuk sekretaris permanen, mengundurkan diri sejak beberapa waktu terakhir. Tiga orang mengundurkan diri pada awal April 2018.

    Baca: Bob Dylan Akhirnya Ambil Hadiah Nobel Sastra 2016

     

    Akademi yang rahasia ini dan didirikan Raja Gustav III bukanlah lembaga resmi pemerintahan. Aturan awal menyatakan anggota tidak bisa mengundurkan diri. Namun, raja sebagai patron bisa mengubah aturan ini.

    Sekretaris Tetap Akademi Swedia Sara Danius mengumumkan bahwa musisi Bob Dylan berhasil meraih Nobel Sastra 2016 di Swedish Academy di Gedung Bursa Efek di Stockholm, Swedia, 13 Oktober, 2016. REUTERS

    Pada awal April 2018, 3 anggota Akademi Swedia mundur. Mereka memprotes cara akademi menangani kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan seorang tokoh terhadap sekitar 18 perempuan, termasuk anggota keluarga akademi.

    Surat kabar Swedia Dagens Nyheter menerbitkan kesaksian 18 wanita yang mengaku telah diserang atau dilecehkan oleh salah satu tokoh paling berpengaruh di kancah budaya di ibu kota Stockholm itu.

    Menurut laporan Dagens Nyheter serangan seksual yang dituduhkan terjadi antara 1996 dan 2017. Salah satu anggota yang mengundurkan diri adalah Peter Englund, yang mengatakan skandal itu mengahancurkan dunia sastra Swedia.

    Bersama dengan Englund, Klas Ostergren dan Kjell Espmark memutuskan untuk mengundurkan diri setelah pertemuan reguler kelompok itu pada Kamis lalu di sebuah restoran di Stockholm.

    "Dengan sangat sedih setelah 36 tahun bekerja di Akademi, termasuk 17 tahun sebagai ketua Komite Nobel, saya merasa terpaksa untuk membuat keputusan ini," kata Espmark.

    "Ketika anggota akademi terkemuka menempatkan persahabatan di depan tanggung jawab dan integritas, saya tidak bisa lagi berpartisipasi."

    Ostergren mengutuk pengkhianatan terhadap pendiri dan pelindung agung Akademi, yaitu Raja Swedia Gustav III, dan penemu Alfred Nobel, yang meninggalkan sebagian kekayaannya kepada lembaga itu.

    “Akademi Swedia telah memiliki masalah sejak lama. Dan saat ini berusaha menyelesaikan masalah dengan menggunakan pertimbangan yang kabur dan bukannya prinsipnya sendiri. Ini merupakan pengkhianatan terhadap pendiri dan para pelindung dan terhadap misi untuk mewakili selera sastra yang jenius," kata Ostergren kepada media Svenska Dagbladet seperti dilansir The Local. "Maka, saya memilih untuk tidak lagi ikut berpartisipasi. Saya meninggalkan meja dan saya keluar dari permainan." Hadiah Nobel diberikan setiap tahun dalam berbagai kategori seperti perdamaian, fisika dan sastra.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.