Senin, 22 Oktober 2018

Militer Amerika Serikat Ada di Suriah Sampai 3 Tujuan Tercapai

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal perang Prancis, FREMM Aquitaine, menembakan rudal jelajah MdCN, varian dari rudal Storm Shadow atau SCALP. Prancis menembakan sembilan rudal jelajah MdCN atau SCALP Naval untuk menghancurkan situs senjata kimi Suriah, pada 14 April 2018. naval.com.br

    Kapal perang Prancis, FREMM Aquitaine, menembakan rudal jelajah MdCN, varian dari rudal Storm Shadow atau SCALP. Prancis menembakan sembilan rudal jelajah MdCN atau SCALP Naval untuk menghancurkan situs senjata kimi Suriah, pada 14 April 2018. naval.com.br

    TEMPO.CO, Jakarta - Amerika Serikat tidak akan menarik pasukan militernya keluar dari perang Suriah hingga tiga tujuannya tercapai.

    Setidaknya ada tiga tujuan Amerika Serikat di Suriah. Pertama, memastikan tidak ada senjata kimia yang digunakan, yang akan membuat kepentingan Amerika Serikat dalam risiko. Kedua, kelompok Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS sudah dikalahkan, dan ketiga menemukan keuntungan yang diperoleh Iran di Suriah.     

    “Tujuan kami adalah melihat pasukan militer kami kembali, tapi kami tidak akan pergi hingga kami tahu kami sudah mencapai tujuan-tujuan kami,” kata Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Nikki Haley, Minggu, 15 April 2018, seperti dikutip dari Reuters.com.

    Baca: Rusia: Sebagian Besar Rudal Amerika Serikat Dihadang Suriah 

    Nikki Haley. huffpost.com

    Trump, yang pada Jumat, 13 April 2018, bergabung dengan Inggris dan Prancis untuk melancarkan serangan misil ke Suriah, telah mengirimkan sinyal yang tak pasti mengenai perang sipil Suriah. Dia telah menegaskan akan menarik sekitar 2.000 pasukan militer Amerika Serikat dari Suriah, tapi tiba-tiba melancarkan serangan bersama dengan sekutunya dari Barat. Serangan itu ditujukan untuk merespons serangan senjata kimia yang terjadi di Kota Douma pada 7 April 2018 dan menghentikan penggunaan senjata kimia di sana.     

    Baca: Amerika Serikat Tak Ingin Terlibat Perang di Suriah 

    Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin, pada Minggu, 15 April 2018, memperingatkan serangan lanjutan di Suriah oleh negara-negara Barat akan membawa kekacauan pada hubungan internasional. Peringatan itu disampaikan Putin terkait dengan rencana Washington meningkatkan tekanan ke Rusia melalui pengetatan sanksi-sanksi ekonomi. Rusia adalah sekutu rezim Suriah. 

    “Vladimir Putin menekankan, jika serangan-serangan semacam itu berlanjut lagi, dipastikan akan mengarah pada kehancuran hubungan internasional,” demikian bunyi keterangan Moskow.              

    Dalam sebuah pembicaraan per telepon dengan Presiden Iran Hassan Rouhani, Putin dan Rouhani sepakat menyimpulkan serangan negara-negara Barat telah merusak peluang untuk mencapai sebuah resolusi politik dalam tujuh tahun berkecamuknya perang Suriah.     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.