Soal Serangan Rudal ke Suriah, Trump Melunak?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komite Internasional Bulan Sabit Merah membawa bantuan kemanusiaan ke wilayah perang Suriah. [File: Bassam Khabieh/Reuters]

    Komite Internasional Bulan Sabit Merah membawa bantuan kemanusiaan ke wilayah perang Suriah. [File: Bassam Khabieh/Reuters]

    TEMPO.CO, Washington – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menggelar rapat dengan para pejabat keamanan nasional di Gedun Putih untuk membahas mengenai kemungkinan serangan militer ke Suriah, Kamis, 12 April 2018.

    Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan melakukan serangan militer berupa serangan rudal terhadap Suriah pasca terjadinya serangan senjata kimia di Kota Douma, yang sempat dikuasai pasukan pemberontak anti-Assad.

    Baca: Trump Peringatkan Rusia Bersiap Hadapi Serangan Rudal

    Lewat cuitan di akun Twitter @realdonaldtrump, Trump mengatakan,”Tidak pernah mengatakan kapan serangan terhadap Suriah akan dilakukan. Bisa jadi sebentar lagi atau masih agak lama,” kata Trump kepada media seperti dilansir CNN, Kamis, 12 April 2018 waktu setempat.

    Presiden AS, Donald Trump, PM Inggris, Theresa May dan Presiden Rusia Vladimir Putin. REUTERS

    Penasehat keamanan nasional AS memperingatkan Trump bahwa serangan terhadap Suriah yang didukung penuh Rusia bisa memperluas konflik bersenjata, yang telah berlangsung selama 7 tahun terakhir.

    Baca: Kecam Serangan Kimia Suriah, Trump Kaji Tindakan Atas Rezim Assad

    Menteri Pertahanan AS, James Mattis, mengatakan tim intelijen masih mengumpulkan bukti soal serangan senjata kimia itu. Kepada DPR AS, Mattis mengatakan,”Masih belum ada bukti meyakinkan rezim Assad berada di balik serangan itu.”

    Mattis menambahkan,“Kita mencoba menghentikan pembunuhan warga sipil. Tapi dalam level strategis, bagaimana caranya agar ini tidak melonjak menjadi konflik yang tidak terkontrol."

    Serangan senjata kimia, seperti dilansir Reuters, diduga terjadi terhadap warga Kota Douma, yang menewaskan sekitar 50 warga termasuk perempuan dan anak-anak. Sejumlah foto dari lokasi menyebar yang menunjukkan para korban mengalami sesak napas dan mendapat bantuan medis.

    Pemerintah Suriah dan Rusia menuding kabar serangan senjata kimia itu sebagai berita bohong. Belakangan, mereka menyalahkan serangan itu kepada kelompok anti-Assad untuk membuat pemerintah Suriah terlihat bersalah. Pada 2017, pasukan pemerintah Suriah pernah terbukti melakukan serangan senjata kimia terhadap warga sipil.

    Sedangkan Prancis dan Inggris menyatakan ada indikasi kuat serangan senjata kimia berupa gas klorin dilakukan rezim Presiden Bashar Al-Assad. “Sangat mungkin rezim itu bertanggung jawab atas serangan pada Sabtu pekan lalu,” begitu pernyataan dari juru bicara Downing Street pasca rapat kabinet PM Inggris, Theresa May, dengan kabinet.

    Sedangkan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menanggapi soal Suriah dalam sebuah wawancara. “Kita punya buktinya bahwa serangan senjata kimia pada pekan lalu menggunakan gas klorin dan itu dilakukan rezim Assad.” Trump mengaku telah berbincang dengan May dan Macron soal Suriah.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.