Selasa, 24 April 2018

Serangan Senjata Kimia, Amerika dan Rusia Saling Tuding

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nikki Haley. huffpost.com

    Nikki Haley. huffpost.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Amerika Serikat akan tidak akan tinggal diam atas serangan senjata kimia terhadap warga sipil Suriah. Amerika Serikat mengancam akan ada harga mahal yang harus dibayar atas serangan tersebut. 

    Dalam pertemuan khusus Dewan Keamanan PBB untuk membahas serangan senjata kimia di Douma, Suriah, Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Nikki Haley mengatakan Rusia harus membayar atas tindakan mereka di Suriah.Dia pun menyayangkan penggunaan senjata kimia yang lagi-lagi digunakan untuk menyerang rakyat Suriah.

    Serangan senjata kimia di Douma, Suriah pada 8 April 2018, telah menewaskan 49 orang dan puluhan orang luka-luka. Douma adalah wilayah yang dikuasai oleh kelompok-kelompok pemberontak di Suriah. 

    “Monster yang harus bertanggung jawab atas serangan-serangan ini tidak memiliki hati nurani yang bisa terkejut oleh foto-foto kematian anak-anak Suriah. Rezim Rusia yang telah mengotori tangan mereka dengan darah anak-anak Suriah tidak bisa dipermalukan dengan gambar korban-korban,” kata Haley, dikutip dari CNN.com pada Selasa, 10 April 2018.   

    Baca: Amerika Yakin Suriah Gunakan Senjata Kimia  

    Dubes As untuk PBB, Nikki Haley. REUTERS/Brendan McDermid

    Baca: Amerika Serikat Sebut Rusia Sebagai Aktor Jahat di Pentas Global

    Menjawab serangan Haley itu, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, balas menuding. Dia mengatakan Amerika Serikat berencana melawan Moskow dan Suriah, mengancam keamanan internasional, memicu ketegangan global dan melakukan hal-hal di luar hukum internasional.

    Nebenzia mengatakan serangan dengan zat sarin dan chlorine sampai sekarang belum terkonfirmasi, untuk itu Amerika serikat bersama Inggris dan Prancis bertindak tanpa justifikasi dan tanpa mempertimbangkan konsekuensi atas kebijakan konfrontatif mereka terhadap Rusia dan Suriah.


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Prevalensi, Penyebab, dan Pencegahan Stunting di Indonesia 2018,

    Pada 2018, satu dari tiga anak Indonesia mengalami stunting karena masalah kekurangan gizi yang sudah terjadi sejak dalam kandungan.