Putin dan Merkel Bertelepon Bahas Suriah

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kanselir Jerman Angela Merkel (kanan), Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri), dan PM Italia Matteo Renzi, berdiskusi di sela-sela KTT Asia-Eropa di Milan, Italia, 17 Oktober 2014. Putin mencari solusi atas sanksi uni Eropa atas krisis Ukraina dan aneksasi di Krimea. (AP/Daniel Dal Zennaro)

    Kanselir Jerman Angela Merkel (kanan), Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri), dan PM Italia Matteo Renzi, berdiskusi di sela-sela KTT Asia-Eropa di Milan, Italia, 17 Oktober 2014. Putin mencari solusi atas sanksi uni Eropa atas krisis Ukraina dan aneksasi di Krimea. (AP/Daniel Dal Zennaro)

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Kanselir Jerman, Angela Merkel saling bertelepon untuk bertukar pandangan mengenai situasi di Suriah. Putin menilai provokasi dan spekulasi penggunaan senjata-senjata kimia di Suriah adalah hal yang tidak dapat diterima. 

    Menurut Putin, penting saat ini bagi dunia internasional saling mengkonsolidasikan upaya-upaya menormalisasi situasi kemanusiaan di Suriah agar sejalan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2401. Pernyataan Putin terkait dengan serangan senjata kimia pada 8 April 2018 di Douma, sebuah wilayah yang selama ini dikuasai oleh pemberontak di dekat ibu kota Damaskus. Serangan senjata kimia ini menewaskan sedikitnya 70 orang dan ratusan orang terkena dampaknya.

    Baca: Putin Juga Pernah Pakaikan Mantel ke Angela Merkel  

    Serangan militer Rusia dengan menggunakan senjata kimia fosfor putih ditujukan pada kota yang diduga sebagai ibukota dari militan ISIS. dailymail.co.uk

    Dikutip dari situs rt.com pada Selasa, 10 April 2018, Putin dan Merkel dalam pembicaraannya membahas pula tuduhan-tuduhan negara-negara Barat yang menuding pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia dalam perang sipil Suriah, yang sudah 7 tahun berkecamuk.

    Baca: Menang Pilpres, Putin Dapat Ucapan Selamat, dari Siapa saja? 

    Selain kondisi di Suriah, dalam pembicaraan melalui telepon itu, Putin dan Merkel sepakat untuk melanjutkan upaya bersama dalam kerja sama Normandy Four untuk menyelesaikan krisis ekonomi dan keamanan di Ukraina. Tak hanya itu, kedua pemimpin pun mengkonfirmasi posisi mereka untuk sama-sama menghormati proyek pipa gas Nord Steam 2, yakni sebuah ekspor pipa gas baru dari Rusia ke Eropa melalui Laut Baltik. 

    Dikutip dari situs Deutsche Welle, pada Selasa, 10 April 2018, Jerman telah memberikan sebuah lampu hijau atas pembangunan proyek Nord Steam 2 yang sangat kontroversi karena melintasi bawah laut area Laut Baltik. Keputusan ini artinya, seluruh kendala hukum untuk membangun proyek sepanjang 31 kilometer jalur pipa di Zona Ekonomi Eksklusif Jerman, sudah tidak ada lagi. Terhitung sejak Januari 2018, otoritas Jerman menyetujui pembangunan pipa gas di area perairan Jerman.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.