Selasa, 24 April 2018

12.300 Gerai Kopi Korea Selatan Siap Serap Kopi Indonesia

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Buah kopi hasil panen di kebun kopi arabika organik  di  Desa Jongok Meluem, Kecamatan Bener Kelipah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, 14 Februari 2018. Tempo/Rully Kesuma

    Buah kopi hasil panen di kebun kopi arabika organik di Desa Jongok Meluem, Kecamatan Bener Kelipah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, 14 Februari 2018. Tempo/Rully Kesuma

    TEMPO.CO, Seoul - Tiga perusahaan kopi asal Indonesia menjalin kerja sama bisnis dengan mitra dari Korea Selatan. Ketiga perusahaan ini adalah Ventura Coffee, PT Indoarabica Mangkuraja, dan Alpha Gemilang.

    Sedangkan mitranya adalah Beanst Coffee, Tona Co Ltd, Quantum International Co Ltd, dan Treeplanet Co Ltd.

    Baca: Pejabat Korea Utara Minta Maaf ke Jurnalis Korea Selatan

    Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi, yang hadir pada penandatanganan kerja sama ini, mengatakan kerja perusahaan Indonesia dibutuhkan untuk melakukan penetrasi penjualan kopi ke pasar kopi setempat.

    Baca: Korea Selatan: Campuran Soju dan Lebah Bisa Berbahaya, Hati-hati

    “Korea Selatan merupakan pasar yang berpotensi besar bagi kopi Indonesia. Karenanya kami sangat serius untuk menggarap pasar ini,” kata Umar Hadi di sela acara International Coffee Expo Seoul 2018 di COEX Center Seoul, yang berlangsung 5-8 April 2018, pada Kamis, 5 April 2018.

    Cara Menyeduh Kopi

    Kerja sama ini berpotensi mencapai nilai sekitar US$ 2 juta atau sekitar Rp 27,7 miliar. Selama ini, pemasok utama kopi di Korea Selatan didominasi perusahaan asal Kolombia, Brasil, dan Vietnam. Namun tren tersebut diperkirakan bakal segera bergeser lewat kerja sama ini.

    Warga Korea Selatan dikenal sangat konsumtif soal kopi. Setidaknya, ada sekitar 12.300 gerai kopi premium dan semipremium di Negeri Ginseng ini, termasuk di toko serba ada di berbagai jalan ramai.  

    Kerja sama ini bakal meningkat karena didukung Gabungan Eksportir Kopi Indonesia dan Coex dari Korea Selatan untuk mempromosikan produk kedua negara.  

    Menurut Hadi, Indonesia merupakan penghasil kopi terbesar ke-4 di dunia dengan cita rasa berbeda.   

    “Penekanan value of Indonesia ke dunia usaha Korea Selatan dan masyarakat pada umumnya menjadi sangat penting, sehingga daya promosi akan lebih efektif,” kata dia.

    Dalam perdagangan kopi dunia, Korea Selatan berada pada peringkat ke-11 sebagai negara pengimpor kopi dan peringkat kedua terbesar di kawasan pasar Asia setelah Jepang.

    Untuk pasar Korea Selatan, eksportir kopi Indonesia masih berada di peringkat ke-13 dengan pangsa pasar sekitar 2 persen, jauh di bawah Vietnam dan Amerika Serikat.

    Pekerja memetik buah kopi di kebun kopi arabika organik di Desa Jongok Meluem, Kecamatan Bener Kelipah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, 14 Februari 2018. Tempo/Rully Kesuma

    Namun, ada tren pertumbuhan ekspor kopi Indonesia ke Korea Selatan, yang naik 19,86 persen dari US$ 6,05 juta atau sekitar Rp 83,4 miliar pada 2013 menjadi US$ 12,82 juta atau sekitar Rp 176,7 miliar pada 2017.

    Tren pertumbuhan ini melampaui Kolombia sebagai pemasok utama dan terbesar kopi di Korea Selatan pada tahun lalu.

    Peningkatan kinerja ekspor ini didorong promosi KBRI Seoul lewat ajang International Coffee Expo Seoul yang rutin digelar.

    Di bawah koordinasi Indonesia Trade Promotion Center, yang berkantor di Busan, Korea Selatan, ada delapan perusahaan asal Indonesia yang mengikuti pameran ini. Mereka adalah Ventura Coffee, Alpha Gemilang, Niraa Bali, Kartika Alam, Utamagro Coffee, Meukat Gayo, Kenred Coffee, dan Bela Komoditi Nusantara.

    Lalu ada tiga importir Korea Selatan yang selama ini setia mengimpor kopi Indonesia, yaitu Coffee Spell, Café Mia, dan Qbean. Bersama Gaeki, perusahaan-perusahaan ini menempati stan ASEAN Coffee Association.


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    Prevalensi, Penyebab, dan Pencegahan Stunting di Indonesia 2018,

    Pada 2018, satu dari tiga anak Indonesia mengalami stunting karena masalah kekurangan gizi yang sudah terjadi sejak dalam kandungan.