Pastor Singapura Minta Maaf pada Ulama Islam

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  •  Lou Engle. facebook.com

    Lou Engle. facebook.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pastor Yang Tuck Yoong, Pendiri Komunitas Gereja Cornerstone di Singapura, meminta maaf secara terbuka kepada seluruh ulama dan pemimpin  komunitas umat Islam di Singapura pada Rabu, 4 April 2018. Yang meminta maaf atas komentar yang disampaikan pendeta berkewarganegaraan Amerika Serikat, Lou Engle.  

    Dikutip dari www.channelnewsasia.com pada Kamis, 5 April 2018, Yang menggelar konferensi Kingdom Invasion 2018 selama tiga hari di Singapura pada Maret 2018. Pada 13 Maret 2018 atau saat pendeta Engle mendapat giliran berkhutbah, pidato Engle mengarah pada pernyataan bahwa Islam adalah sebuah ancaman bagi agama Kristen. Pernyataan Engle ini dipublikasi secara online sebuah media.

    Baca: SBY: Jangan Ada Islamofobia dan Kristenofobia di Indonesia

    Lou Engle saat berbicara di Singapura, 13 Maret 2018. facebook.com   

    Dalam pidatonya Engle mengatakan Muslim sedang mengambil alih wilayah selatan Spanyol dan dia telah memimpikan untuk membangkitkan gereja di seluruh Spanyol sehingga menggeser gerakan Islam modern.

    Baca: Di Jerman Serangan Kebencian Terhadap Islam Naik    

    Kementerian Dalam Negeri Singapura sedang menginvestigasi klaim-klaim yang muncul atas khutbah Engle ini. Situs www.straitstimes.com mewartakan Kepolisian Singapura telah meminta Engle untuk kembali ke Singapura guna dimintai keterangan. Engle telah meninggalkan Singapura segera setelah konferensi Kingdom Invasion 2018 selesai. 

    Sedangkan komunitas gereja Cornerstone telah memasukkan laporan tuntutan hukum atas unggahan secara online khutbah Engle itu. Yang pun berjanji, Engle tidak akan di undang lagi untuk berkhutbah di Singapura. Sebelumnya pada konferensi serupa pada 2016 dan 2017, Engle selalu diundang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.