Irwandi Jaswir Miris Produk Halal Indonesia Masih Impor

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Irwandi Jaswir, Ilmuan asal Bukit Tinggi, Irwandi Jaswir menerima penghargaan sekelas Nobel, King Faisal Prize, di Arab Saudi, Senin, 26 Maret 2018. Sumber: dokumen KBRI Arab Saudi dan pribadi

    Irwandi Jaswir, Ilmuan asal Bukit Tinggi, Irwandi Jaswir menerima penghargaan sekelas Nobel, King Faisal Prize, di Arab Saudi, Senin, 26 Maret 2018. Sumber: dokumen KBRI Arab Saudi dan pribadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Irwandi Jaswir, ilmuwan yang baru saja memenangkan King Faisal International Prize 2018, memperingatkan jika tidak ada riset dan ilmuwan, maka Indonesia akan menjadi bangsa konsumen. Indonesia adalah negara dengan umat Islam terbesar di dunia, tetapi produk-produk halal di Indonesia masih impor. 

    “Saya setiap bulan ke Indonesia dan selalu saya sampaikan kita lebih banyak dipenerbitan sertifikasi halal, ini memang peting untuk kepastian pada kustomer. Akan tetapi grand design-nya enggak ada. Akhirnya pasar produk-produk halal diambil alih oleh Thailand, Brazil, Australia dan negara lain,” kata Irwandi yang merupakan profesor senior kimia makanan dan bio kimia International Islamic University Malaysia.

    Kepada Tempo, Jumat, 30 Maret 2018, Irwandi mengatakan anggaran bidang ilmu pengetahuan dari pemerintah harus ditingkatkan dan difasilitasi. Sebab Indonesia harus menjadi pemain inti dalam industri halal. Selama ini, Indonesia masih sibuk dengan sertifikasi dan undang-undang jaminan produk halal.

    Baca: Raih King Faisal Prize, Ini Riset Irwandi Jaswir

    Prof. Dr. Irwandi Jaswir berhasil menyabet penghargaan bergengsi di dunia Arab dan Islam, yakni “King Faisal International Prize 2018” dalam kategori Pelayanan Kepada Islam (Service to Islam), Rabu, 28 Maret 2018. Sumber: dokumen KBRI Arab Saudi.

    Baca:Memenangi King Faisal International Prize, Ini Hadiah Irwandi 

    Irwandi pun menghimbau kepada generasi muda Indonesia agar menghapus keraguan jika hendak menggeluti karir sebagai peneliti. Karir ini memiliki masa depan yang cerah dan menjanjikan. 

    “Saya percaya ada istilah innovation is rewarding. Artinya inovasi itulah yg menentukan masa depan bangsa. Dalam acara seperti diaspora pulang kampung, saya ingin kita membuat idola-idola baru yang bisa membuka pikiran anak-anak. Zaman saya, B.J. Habibi terkenal banget, sekarang tidak ada role model, tidak ada lagi anak-anak yang ingin menjadi Habibie,” katanya.

    Irwandi mengaku prihatin dengan rendahnya animo generasi muda yang ingin menjadi ilmuwan atau peneliti. Sebab kondisi ini adalah ancaman besar bagi sebuah negara berdaulat dan ini adalah sebuah pekerjaan rumah yang sangat besar.  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.