Kuwait Janji Tindak Lanjuti Laporan Kekerasan pada PRT

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kekerasan. radiocacula.com

    Ilustrasi kekerasan. radiocacula.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah Kuwait berjanji akan menindak lanjuti laporan-laporan kekerasan terhadap pembantu rumah tangga atau PRT di negara itu. Laporan tindak kekerasan terhadap pembantu rumah tangga di Kuwait sudah meningkat. 

    Masalah ini menjadi prioritas Kuwait, khususnya setelah kasus kematian seorang tenaga kerja asal Filipina hingga memicu ketegangan hubungan bilateral kedua negara. Pekerja dari Filipina itu ditemukan tewas di dalam sebuah kulkas pada awal 2018.

    Baca: Pekerja Filipina Dilecehkan, Duterte Ingatkan Kuwait: Harga Diri

    Ilustrasi kekerasan terhadap wanita. Shutterstock 

    Baca :TKI Ini Hilang di Kuwait Sejak 2010

    Dikutip dari situs english.alarabiya.net pada Rabu, 21 Maret 2018, kasus kekerasan terhadap asisten rumah tangga yang baru saja terjadi di Kuwait adalah pengaduan seorang laki-laki warga negara India, 22 tahun, yang mengatakan ibunya yang sudah tua telah disiksa dan ditahan ketika bekerja untuk seorang warga negara Kuwait. Aduan itu dibantah oleh kakak tergugat, yang menyangkal tuduhan telah melakukan penyiksaan tersebut. 

    Surat kabar Kuwaiti Al-Anba mewartakan sejumlah dokter mengkonfirmasi kondisi asisten rumah tangga tersebut sudah stabil setelah sempat dilarikan ke rumah sakit Adan. Perempuan tua yang menjadi asisten rumah tangga itu sekarang berada di bawah pengawasan.

    Kuwait adalah anggota OPEC dan ekonominya tumbuh paling pesat diantara negara-negara Teluk. Separuh dari populasi Kuwait adalah ekspatriat atau pekerja migran. Kementerian Luar Negeri Filipina mencatat ada lebih dari 250 ribu pekerja Filipina mencari nafkah di Kuwait, yang sebagian besar bekerja di sektor domestik atau asisten rumah tangga.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.