Diduga Terima Uang Diktator Libya Gaddafi, Sarkozy Ditangkap

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kasus Korupsi yang Menjerat Sarkozy

    Kasus Korupsi yang Menjerat Sarkozy

    TEMPO.CO, Paris - Mantan Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy, ditangkap polisi setelah diduga menggunakan uang dari eks diktator Libya, Muammar Gaddafi, untuk membiayai kampanye untuk pemilihan Presiden pada pemilu 2007.

    Laporan Sky News pada Selasa, 20 Maret 2018 menyebutkan Sarkozy diduga menerima 50 juta euro atau setara Rp 846,8 miliar dari rezim Muammar Gaddafi. Gaddafi sendiri terbunuh pada 2011 dalam pemberontakan yang terjadi di Libya saat dia ditemukan kelompok perlawanan bersembunyi di sebuah gorong-gorong di Misrata, Libya.

    Baca: Nicolas Sarkozy, Calon Presiden Prancis 2017

     

    Tudingan itu pertama kali disampaikan putra mendiang diktator Libya itu dan seorang pengusaha Perancis, Ziad Takieddine. Takieddine mengaku telah mengantarkan tiga koper berisi uang dari pemimpin Libya ke mantan Presiden Perancis itu.

    Pada Maret 2011, Saif al-Islam Gaddafi, putra mendiang diktator Gaddafi, mengatakan Sarkozy harus mengembalikan uang yang dia terima dari Libya untuk membiayai kampanye pemilihannya.

    Baca: Dijerat Korupsi, Sarkozy Terancam Dibui 10 Tahun

    Mitos kutukan ini semakin gencar setelah diktator Libya Muammar Gaddafi tewas oleh pasukan pemberontak pada 20 Oktober 2011, setelah Ramsey menjebol gawang Marseille sehari sebelumnya. REUTERS/Huseyin Dogan

    "Hal pertama yang kami minta adalah badut ini mengembalikan uang itu kepada orang-orang Libya. Kami membiayai kampanyenya dan kami memiliki bukti," kata Saif.

    Saif mengatakan saat itu mengirimkan tiga koper yang diisi dengan uang tunai ke Paris antara 2006 dan 2007 melalui Takieddine. Uang itu diserahkan kepada Sarkozy di kementerian Dalam Negeri saat dia menjadi menteri.

    Sarkozy adalah Presiden Prancis dari tahun 2007 sampai 2012.

    Pelanggaran yang dilakukan Sarkozy adalah jumlah yang diterimanya itu lebih dari dua kali lipat dari batas pengeluaran legal dalam pemilu Prancis saat itu, yaitu 21 juta euro.

    Pendanaan itu juga melanggar undang-undang Perancis mengenai pembiayaan luar negeri dan keterbukaan terkait sumber dana kampanye.

    Sarkozy dan manajer kampanyenya telah berulang kali membantah menerima uang dari Libya. Namun ini adalah pertama kalinya Sarkozy diperiksa dalam kaitannya dengan penyelidikan ini, yang dibuka pada April 2013.

    Dia kemungkinan akan ditahan hingga 48 jam sebelum diajukan ke pengadilan untuk menjalani persidangan. Reuters melansir pengacara Sarkozy belum bisa dikontak soal penahanan ini. "Namun bekas Presiden itu pernah mengatakan tudingan soal uang Libya itu sebagai jorok dan manipulasi yang kasar," begitu dilansir Reuters.

    Sarkozy sebelumnya telah diperintahkan untuk diadili dalam kasus terpisah, mengenai pembiayaan kampanye pemilihan 2012, saat dia kalah dari Francois Hollande.

    Dia juga berusaha untuk kembali mencalonkan diri kembali pada pemilu 2017, tetapi gagal meyakinkan pemilih di partainya sendiri untuk mendukungnya dan harus menyerahkan kepada Francois Fillon dan Alain Juppe.

    Selama masa kepemimpinannya, Sarkozy dan Gaddafi kerap melakukan penandatanganan kontrak perdagangan bernilai miliaran euro.

    Meskipun menyambut diktator Libya itu ke Paris pada awal masa jabatannya tetapi kemudian Sarkozy menempatkan Perancis di garis depan serangan udara pimpinan NATO yang membantu menggulingkan rezim Gaddafi pada 2011. Sarkozy pernah menerima Gaddafi di masa awaaal pemerintahannya dan mengizinkan Gaddafi mendirikan tenda ala Badui di sebelah istana Elysee.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.