Korea Selatan Kiblat Indonesia Kembangkan Ilmu Pemanfaatan Nuklir

Reporter:
Editor:

Suci Sekarwati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung berjalan memasuki reaktor nuklir Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Muelheim-Kaerlich, Jerman, 22 Mei 2017. PLTN ini merupakan salah satu reaktor nuklir yang akan dibongkar oleh Jerman dalam misi peralihan penggunaan sumber energi terbarukan. REUTERS/Thilo Schmuelgen

    Pengunjung berjalan memasuki reaktor nuklir Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Muelheim-Kaerlich, Jerman, 22 Mei 2017. PLTN ini merupakan salah satu reaktor nuklir yang akan dibongkar oleh Jerman dalam misi peralihan penggunaan sumber energi terbarukan. REUTERS/Thilo Schmuelgen

    TEMPO.CO, Jakarta - Posisi Indonesia sebagai Ketua Dewan Gubernur Badan energi atom internasional atau IAEA harus dimanfaatkan optimal. Meski penggunaan nuklir sebagai sumber energi adalah pilihan akhir bagi Indonesia, namun ilmu pengetahuan mengenai nuklir jangan sampai ketinggalan.  

    Baca: BATAN: Listrik dari Tenaga Nuklir Menghemat Pembayaran 50 Persen

    Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) terus melakukan eksplorasi untuk memanfaatkan sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Kepala Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir (PTBGN) BATAN Agus Sumaryanto mengatakan, PLTN menjadi satu alternatif untuk memberbaiki lingkungan.

    Menurut Siswo Pramono, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kementerian Luar Negeri, untuk mengembangkan ilmu pengetahuan bidang nuklir, Indonesia bisa bekerja sama dengan Korea Selatan, yang telah dikenal bagus dalam bidang keselamatan dan emisi nuklir. Kerja sama yang sudah berjalan saat ini, yakni lewat pertukaran profesor antar perguruan tinggi dan antar peneliti.                      

    “Diantara negara anggota Mikta, Korea Selatan paling banyak menggunakan energi nuklir. Listrik di Korea Selatan hampir semua dari nuklir dan selama ini kita lihat emisinya bagus. Tidak ada kebocoran. Ini artinya, keselamatan nuklirnya baik sehingga bisa dijadikan contoh,” kata Siswo, Senin, 19 Maret 2018, usai peluncuran buku dan diskusi diskusi bertajuk ‘MIKTA: Current Situation and the Way Forward’

    Kondisi Indonesia dan Korea Selatan tidak berbeda jauh, yaitu sama-sama negara middle power. Bukan hanya itu, kedua negara memiliki strategic partnership, keduanya juga sama-sama anggota Mikta dan Korea Selatan adalah bagian dari ASEAN plus 3. Yang paling penting, tingkat inovasi teknologi Korea Selatan sangat tinggi sehingga Indonesia patut belajar dari Negeri Ginsen itu.

    Jika total ukur pengembangan ilmu pengetahuan bidang nuklir adalah ASEAN, maka hal ini adalah angin segar. Sebab ASEAN sudah mendeklarasikan sebagai zona bebas senjata nuklir sehingga pengembangan nuklir jelas tidak boleh untuk senjata. Dengan mekanisme ini, kerja sama pengembangan ilmu pengetahuan bidang nuklir dengan Korea Selatan, aman.

    Baca:JK Jelaskan Kenapa Indonesia Belum Bisa Gunakan Nuklir   

    Nuklir bisa dimanfaatkan untuk pengobatan. Hampir di setiap rumah sakit besar di Indonesia, memanfaatkan teknologi nuklir. Pengembangan nuklir sebagai sumber energi belum menjadi prioritas karena Indonesia masih bisa menggunakan bahan-bahan lain yang lebih murah, menyerap banyak tenaga kerja dan tersedia di alam, seperti batu bara, gas dan energi terbarukan.    


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uji Praktik SIM dengan Sistem Elekronik atau e-Drives

    Ditlantas Polda Metro Jaya menerapkan uji praktik SIM dengan sistem baru, yaitu electronic driving test system atau disebut juga e-Drives.