Trump Mau Bubarkan Tim Mueller, Politikus Republik: Mau Lengser?

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Donald Trump dan Penasihat ekonomi utama Gedung Putih Gary Cohn. businessinsider.com

    Presiden Donald Trump dan Penasihat ekonomi utama Gedung Putih Gary Cohn. businessinsider.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Para politikus Partai Republik Amerika Serikat mengkritik Presiden Donald Trump, yang kembali menyerang penasehat khusus Robert S. Mueller, yang sedang mengivestigasi dugaan intevensi Rusia atas kemenangan Trump pada pilpres AS 2016.

    Lewat akun Twitter-nya @realdonaldtrump, Trump mencuit pada Ahad, 18 Maret 2018 waktu setempat bahwa investigasi Mueller seharusnya tidak dimulai sejak awal.

    Baca: Akhirnya, Trump Bersedia Diperiksa Mueller Soal Kolusi Rusia

     

    "Karena tidak ada kolusi dan tindak kejahatan. Investigasi itu dimulai berdasarkan tindakan penipuan dan dokumen palsu, yang dibayar oleh Hillary (Clinton) yang jahat dan DNC. Menggunakan FISA COURT untuk memantau kampanye saya. Witch Hunt!," kata Trump.

    DNC adalah komite Partai Demokrat untuk konvensi pemilihan internal kandidat calon Presiden dari partai itu. Sedangkan FISA Court adalah pengadilan yang digunakan FBI untuk mendapatkan izin melakukan pemantauan dan penyadapan terhadap kampanye Trump.

    Baca: Mueller Dakwa 13 Orang Rusia Soal Pilpres 2016, Trump Bilang Ini

     

    Robert Mueller dan Donald Trump
    Senator Partai Republik, Jeff Flake, mengkritik Trump secara keras atas komentar terbaru Trump di atas. Pernyataan Trump terkesan ada upaya untuk memberhentikan penasehat khusus yang dibentuk oleh Kementerian Kehakiman AS sendiri.

    Kritik lebih keras dari Senator Lindsey Graham, seperti dilansir Reuters, yang juga dari Republik. "Jika Trump akan memberhentikan Mueller, maka itu akan menandai awal berakhirnya masa jabatan Presiden Trump."

    Juru bicara Fraksi Partai Republik di DPR AS, Ashlee Strong, mengatakan,"Seperti sering disebut oleh Ketua DPR, Pak Mueller dan timnya harus bisa mengerjakan tugas mereka."

    untuk meredakan ketegangan ini, pengacara Ty Cobb dari Gedung Putih mengatakan Trump tidak mempertimbangkan untuk memberhentikan Mueller.

    "Untuk menanggapi spekulasi media dan pertanyaan kepada pemerintah, Gedung Putih mengkonfirmasi Presiden tidak mempertimbangkan atau mendiskusikan rencana memberhentikan penasehat khusus Robert Mueller," kata dia.

    Menurut media CNN, meskipun kubu Trump mengatakan tidak berencana memberhentikan Mueller tapi pernyataan yang dilontarkan justru mengarah ke sana.

    CNN mengutip berbagai pernyataan Trump di akun Twitternya, termasuk pernyataan terbaru yang berisi tudingan bahwa tim Mueller berisi 13 orang Demokrat pendukung Hillary Clinton.

    "Rangkaian cuitan itu akan memberi kesan jelas bahwa Trump merasa bosan dan lelah dengan investigasi Mueller soal dugaan campur tangan Rusia pada pilpres 2016," begitu dilansir CNN. "Presiden ingin semua ini diakhiri. Sekarang."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.