Universitas Malaysia Ini Berharap dari Penerbangan Baru Pontianak

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana ruang olahraga di Curtin University di Miri, Malaysia pada Sabtu, 17 Maret 2018. Kampus swasta dari Australia ini berharap bisa menarik lebih banyak mahasiswa dari Indonesia setelah dibukanya rute penerbangan Pontianak-Miri satu kali sehari. TEMPO/Suci Sekarwati

    Suasana ruang olahraga di Curtin University di Miri, Malaysia pada Sabtu, 17 Maret 2018. Kampus swasta dari Australia ini berharap bisa menarik lebih banyak mahasiswa dari Indonesia setelah dibukanya rute penerbangan Pontianak-Miri satu kali sehari. TEMPO/Suci Sekarwati

    TEMPO.CO, Jakarta - Penerbangan baru Pontianak-Miri, sebanyak satu kali dalam sehari diharapkan semakin memudahkan lalu-lintas masyakarat Indonesia -- Malaysia. Civitas akademika universitas swasta internasional, Curtin University, juga berharap bisa menarik lebih banyak mahasiswa Indonesia setelah dibukanya rute penerbangan baru ini pada 15 Maret 2018. 

    Pada Sabtu, 17 Maret 2018, Tempo dan sejumlah media mendapat kesempatan berkunjung ke Universitas itu. Curtin University di Miri, Sarawak, Malaysia memiliki rancangan bangunan yang sama persis dengan kampus pusat mereka di Australia. Selain di Miri, Curtin University juga membuka cabang di Singapura, dan Dubai. 

    Curtin University di Miri memiliki sekitar 20 gedung dan asrama mahasiswa di sebuah lahan seluas 1.200 hektar. Pada 2018, total ada sekitar 4.000 mahasiswa, yang dari jumlah itu sekitar 500 mahasiswa berasal dari luar Malaysia. Mahasiswa asing yang kuliah di sana umumnya berasal dari India, Pakistan, negara-negara Afrika, Myanmar, Indonesia, dan Vietnam.

    Baca: Mahasiswa Malaysia Belajar Diplomasi di Universitas Jember

    Suasana ruang kelas Curtin University di Miri, Malaysia pada Sabtu, 17 Maret 2018. Kampus swasta dari Australia ini berharap mahasiswa Indonesia lebih banyak berkuliah di kampus ini setelah dibukanya rute penerbangan baru Pontianak-Miri satu kali dalam sehari. TEMPO/Suci Sekarwati.

    Dari total 500 mahasiswa asing, 10 persennya adalah mahasiswa Indonesia, yang kebanyakan belajar di fakultas teknik. Total ada 3 fakultas di Curtin University di Miri, yakni Fakultas Bisnis, Fakultas Teknik dan Ilmu Pengetahuan, dan Fakultas Media Studies

    "Untuk fakultas teknik, kami sudah membuka pintu kerja sama dengan Universitas Indonesia dan Politeknik Chevron, seperti program pertukaran pelajar. Ada juga kerja sama bidang riset dengan UGM dan Itenas, Bandung," kata Agus Saptoro, seorang dosen dari Indonesia, yang mengajar di jurusan teknik kimia di Curtin University Sabtu, 17 Maret 2018 di Miri, Malaysia.

    Agus menceritakan mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang diajarnya banyak yang pintar, tetapi tidak sedikit pula yang kecerdasannya rata-rata. Agus sudah 7 tahun mengajar di Curtin University.          

    Baca: Unsyiah Aceh Kerja Sama dengan Universitas Malaysia

    Natasha Dalia, mahasiswa Indonesia yang kuliah S1 di Curtin University di Miri, mengaku sangat menikmati masa-masa kuliahnya meski hampir setiap hari ada perkuliahan. Semua fasilitas yang dibutuhkan tersedia dan biaya hidup di Miri yang relatif murah.

    "Di sini yang saya alami tidak ada diskriminasi dan kuliahnya tidak bikin stress karena mahasiswa senior tidak pelit ilmu dan ada kesempatan tatap muka dengan dosen bagi mahasiswa yang belum mengerti suatu mata pelajaran," kata Natasha, Sabtu, 17 Maret 2018.    

    Mencari masakan Indonesia pun di area universitas ini cukup mudah, termasuk biaya hidup di Miri yang realtif murah. Natasha menjelaskan, untuk biaya makan tiga kali dalam satu hari biasanya hanya mengeluarkan kocek 20 ringgit Malaysia atau sekitar Rp70 ribu saja.    


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.