Cerita Tempat Belajar Anak TKI di Pedalaman Malaysia

Reporter:
Editor:

Maria Rita Hasugian

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Duta Besar RI untuk Malaysia Rusdi Kirana, berdialog dengan TKI yang bekerja di perkebunan saat meresmikan pembukaan Community Learning Center di Miri, Sarawak, Malaysia, 16 Maret 2018. TEMPO/Suci Sekarwati

    Duta Besar RI untuk Malaysia Rusdi Kirana, berdialog dengan TKI yang bekerja di perkebunan saat meresmikan pembukaan Community Learning Center di Miri, Sarawak, Malaysia, 16 Maret 2018. TEMPO/Suci Sekarwati

    TEMPO.CO, Jakarta - Community Learning Center atau CLC Ladang Taniku di Miri, Sarawak, Malaysia, terletak di tengah ladang kelapa sawit Taniku atau persisnya 7.5 kilometer dari gerbang masuk perkebunan. Tempatnya sederhana, berupa rumah panggung dari kayu dengan dua ruang kelas dan dua guru. 

    Sabarian, orang tua murid menceritakan seragam dua anaknya yang bersekolah di Ladang Taniku dijahitnya sendiri. Namun ada pula orang tua murid yang membeli seragam sekolah dari Indonesia. Sabarian dan suaminya sudah tiga tahun bekerja di perkebunan kelapa sawit Taniku. Menurutnya,  keberadaan CLC ini sangat membantu pendidikan anak-anaknya. 
     
     
    Duta Besar RI untuk Malaysia, Rusdi Kirana meresmikan CLC Ladang Taniku di Miri, Sarawak, Malaysia, Jumat, 16 Maret 2018. CLC ini dibangun pada Desember 2017 lalu dan telah memilik sekitar 30 murid. TEMPO/Suci Sekarwati
     
    Pada Jumat pagi, 16 Maret 2018, anak-anak bersemangat memasuki ruang kelas yang beralas karpet tanpa meja dan kursi. Total ada 21 murid usia sekolah dasar dan 12 murid sekolah taman kanak-kanak. 
     
    "Fasilitas ini kami sediakan sebagai asas pendidikan bagi anak-anak ini," kata Thimayah, Manajer Ladang Taniku, Jumat, 16 Maret 2018 di Miri, Sarawak, Malaysia.
     
    Dia menjelaskan, CLC Ladang Taniku resmi beroperasi pada 18 Desember 2017. Awalnya, ruang kelas yang saat ini digunakan hanya tempat mengajarkan bacaan Al-Quran dan lagu-lagu nasyid kepada anak-anak. Namun setelah datangnya guru-guru dari Indonesia, sekolah mengalami banyak perubahan. 
     
    "Kami menitikberatkan supaya pendidikan anak-anak para pekerja terjamin meski mereka tinggal di luar negeri. Semoga ini bisa menjadi motivasi, menjadikan anak-anak individu yang mandiri dan membanggakan," ujarnya.  
     
    Fitriyani, 23 tahun, guru dari Makasar, Sulawesi Selatan, yang mengajar di CLC Ladang Taniku sejak Desember 2017 mengatakan kepada Tempo akan mengajar di CLC Ladang Taniku hingga tiga tahun ke depan.
     
     
    Sedangkan Hadana Nurdin, 32 tahun, belum memiliki rencana kapan akan pulang ke Indonesia menemui anak-anaknya di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Baginya, melihat anak-anak di Ladang Taniku, Malaysia, yang banyak dan kebutuhan mereka akan pendidikan telah mendorongnya untuk terus mengajar.  

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.