Gina Haspel, Direktur Perempuan Pertama CIA Pilihan Trump

Reporter:
Editor:

Budi Riza

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gina Haspel merupakan direktur perempuan pertama CIA pilihan Trump. Reuters.

    Gina Haspel merupakan direktur perempuan pertama CIA pilihan Trump. Reuters.

    TEMPO.CO, Jakarta - Publik Amerika Serikat dikejutkan dengan keputusan Presiden Donald Trump untuk memberhentikan Menteri Luar Negeri, Rex Tillerson.

    Posisi dalam jabatan tinggi AS itu langsung berubah dengan Direktur CIA, Mike Pompeo, ditunjuk mengisi jabatan diplomat tertinggi, yang ditinggalkan Tillerson.

    Baca: Trump Pecat Rex Tillerson, Tunjuk Direktur CIA Jadi Menlu AS

     
     

    Untuk menggantikan posisi Pompeo, Trump telah mempersiapkan Gina Haspel untuk menjadi direktur CIA yang baru. Jika disetujui oleh Senat, Haspel akan menjadi wanita pertama yang menjalankan Central Intelligence Agency.

    Gina Haspel, yang dinominasikan oleh Presiden Donald Trump untuk memimpin CIA, adalah seorang veteran Black Ops, yang pernah menjalankan operasi interogasi rahasia di Thailand. Dia dituduh terlibat dalam kegiatan penyiksaan para tahanan.

    Baca:

    Eks Bos CIA Brennan Tuding Trump adalah Seorang ...

     
     Lambang Central Intelligence Agency (CIA), badan intelijen Amerika, yang terdapat di Lobi Markas Besar CIA di Langley. cia.gov
     Menurut Reuters, sejumlah pejabat intelejen yang pernah bekerja dengan Haspel mengatakan Haspel bertanggung jawab atas pembentukan penjara rahasia dengan kode "Mata Kucing". Ini terjadi pada masa pemerintahan Presiden W. Bush. Ada dua anggota militan Al Qaeda yang mengalami penyiksaan di penjara itu misalnya dengan cara waterboarding.

    "Tiga tahun kemudia, masih pada masa kepresidenan Bush, Haspel memerintahkan penghancuran rekaman video penyiksaan waterboarding, yang berupa penenggelaman tahanan dan termasuk bentuk penyiksaan," begitu dilansir Reuters, Selasa, 13 Maret 2018 waktu setempat. 

    Mike Pompeo, yang saat itu menjadi kepala CIA baru, tidak mempedulikan latar belakangnya dan menjadikan Haspel sebagai orang nomor dua di CIA. Penunjukannya mendapatkan dukungan dari banyak mantan pejabat intelijen senior AS.

    Reputasi publik Haspel didasarkan pada hubungannya dengan 'penjara hitam', yang dijalankan CIA di Thailand dari tahun 2002 untuk tahanan pasca-9/11.

    Laporan media mengatakan Hapsel memimpin penyiksaan terhadap tersangka kunci al-Qaeda, Abu Zubaydah, dan Abd al-Rahim al-Nashiri, yang diinterogasi dan berulang kali ditempatkan di penjara itu.

    CIA selalu menyatakan apa yang dilakukan timnya sebagai legal.

    Haspel kemudian dituduh melakukan penghancuran rekaman video CIA, yang merekam sesi penyiksaan itu. Pengacara tahanan Al-Qaeda telah menuntut penyerahan rekaman bukti di pengadilan.

    Namun Hapel dibebaskan dari tuduhan pelanggaran itu. Penyiksaan sejak itu telah secara eksplisit dilarang oleh pemerintah. an terlepas dari dukungan Trump, tidak ada laporan tentang badan intelijen AS yang kembali melakukan praktek.

    Meskipun memiliki masa lalu yang kontroversial, kemunculannya tidak mengejutkan. Haspel sebelumnya menjabat sebagai deputi direktur CIA dan memimpin operasi bawah tanah (clandestine) intelijen di seluruh dunia. Ini adlaah sebuah misi CIA, yang telah mendapat kepercayaan baru dalam beberapa tahun terakhir.

    Seperti dilansir Channel News Asia pada 14 Maret 218, Haspel, 61 tahun, bergabung dengan agen mata-mata AS itu pada 1985 dan menjabat sebagai kepala di beberapa pos CIA di seluruh dunia.

    Karirnya terus melesat sejak itu. Dia mendapatkan pekerjaan sebagai wakil direktur National Clandestine Service, dan akhirnya ditunjuk menjadi direktur layanan CIA pada tahun 2013.

    Tapi dia langsung diganti atas perannya dalam operasi interogasi pasca 9/11, yang melibatkan metode yang dianggap menyiksa, seperti waterboarding.

    Perannya berubah di bawah Trump, yang telah menyatakan dukungannya untuk penggunaan penyiksaan dalam interogasi tahanan.

    Kombinasi foto Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson (kiri) dan Direktur Central Intelligence Agency (CIA) Mike Pompeo. REUTERS/Jonathan Ernst (L) Aaron P. Bernstein (R

    Di bawah kepemimpinan Haspel, CIA akan menghadapi sejumlah tantangan, terutama di Korea Utara. CIA telah berada di balik kurva dalam menilai apa yang Kim Jong Un lakukan, tantangan khusus sekarang Kim telah mengundang Trump untuk melakukan pembicaraan mengenai kemungkinan dilakukannya denuklirisasi di Semenanjung Korea.

    Badan ini juga mendapat tekanan terus menerus dari Trump untuk menilai kepatuhan Iran terhadap komitmen nuklirnya; Trump telah berulang kali menyerang kesepakatan nuklir ini dan mencari bukti untuk membatalkannya.

    Rusia adalah masalah berduri lainnya bagi direktur CIA yang baru. Dia akan melapor kepada seorang presiden, yang telah menganggap remeh ancaman dari Moskow dan mencemooh intelijen bahwa Rusia terlibat dalam mengintervensi pemilihan AS.

    CIA dan badan-badan lain juga telah berjuang untuk mengatasi kebocoran beberapa alat mata-mata siber dan data penting mereka, yang sering disalahkan pada industri besar kontraktor intelijen di sekitar Washington dan membuat mereka semakin bergantung. Trump akan mengajukan nama-nama pejabat baru ini kepada Senat untuk menjalani proses seleksi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?